Sunday, June 2, 2019

Cerita Dewasa Suster Yang Alim Dientot Dokter Jaga

Cerita Dewasa Suster Yang Alim Dientot Dokter Jaga

Cerita Dewasa Suster Yang Alim Dientot Dokter Jaga

Malam itu, jam sebelas lebih, cuaca sangat tidak bersahabat. Sejak jam sebelasan tadi hujan sudah turun dengan derasnya disertai guruh dan petir. Di tempat yang sepi depan pintu kamar periksa itulah dokter Maman, dokter jaga di rumah sakit itu menghabiskan waktunya dengan membaca buku. Maman (37 tahun), dalam usia sekian itu masih tampak ganteng dan gagah dengan tinggi badan 175 cm. Sudah hampir sepuluh tahun dia bekerja sebagai dokter di rumah sakit ini, istrinya masih muda (29 tahun) dengan 2 anak. Kesepian dan suasana sepi sudah menjadi temannya sehari-hari apabila dia dapat tugas jadi dokter jaga, maka mendengar suara-suara aneh dan cerita-cerita seram lainnya sudah tidak membuatnya merinding lagi, istilahnya sudah kebal dengan hal-hal seperti itu. Sungguh, malam itu menjadi malam panjang baginya, suasana hujan dengan angin yang dingin mudah membuai orang hingga ngantuk. Pak dokter Maman masih terus juga membaca buku yang sengaja dia bawa dari rumah. Hening sekali suasana di sana, bunyi yang terdengar hanya bunyi rintik hujan, angin. Tak lama kemudian terdengar bunyi lain di lorong itu, sebuah suara orang melangkah, suara itu makin mendekat sehingga mengundang perhatian dokter itu. “Siapa tuh ya, malem-malem ke sini ?” tanya dokter maman dalam hati. 

Suara langkah makin terdengar, dari tikungan lorong muncul lah sosok itu, ternyata seorang gadis cantik berpakaian perawat dan berjilbab lebar. Di luar seragamnya dia memakai jaket cardigan pink berbahan wol untuk menahan udara dingin malam itu. Suster itu ternyata berjalan ke arahnya. “Permisi, Pak” sapanya pada Maman dengan tersenyum manis. “Malam Sus, lagi ngapain nih malem-malem ke sini” balas Maman. “Ohh…hehe…anu Pak abis jaga malam sih, tapi belum bisa tidur, makannya sekalian mau keliling-keliling dulu” Dokter Maman bingung sebab tidak tahu kalau suster itu juga jaga. Maka Maman bertanya, “Oh iya kok saya rasanya baru pernah liat Sus disini yah ?” tanya Maman. “Iya Pak, saya baru pagi tadi sampai disini, pindahan dari rumah sakit *****” jawabnya, “jadi sekalian mau ngenal keadaan disini juga” “Oo…pantes saya baru liat, baru toh” kata Pak dokter Maman. “Emang bapak kira siapa ?” tanyanya lagi sambil menjatuhkan pantatnya pada bangku panjang dan duduk di sebelah Maman. “Wow, hoki gua” kata pria itu dalam hati kegirangan. “Dikirain suster ngesot yah, hahaha” timpal dokter Maman mencairkan suasana. “Hehehe dikira suster ngesot, nggak taunya suster cantik” sambung Maman lagi tertawa untuk menghangatkan suasana. “Kalau ternyata memang iya gimana Pak” kata gadis itu dengan suara pelan dan kepala tertunduk yang kembali membuat pria itu merasa aneh. Tiba-tiba gadis itu menutup mulutnya dengan telapak tangan dan tertawa cekikikan. “Hihihi…bapak dokter ini lucu ah, sering jaga malam kok digituin aja takut” tawanya. “Wah-wah suster ini kayanya kebanyakan nonton film horror yah, daritadi udah dua kali bikin kita nahan napas aja” kata Pak Maman. “Iya nih, suster baru kok nakal ya, awas Bapak laporin loh” kata Maman menyenggol tubuh samping gadis itu. Sebentar kemudian suster itu baru menghentikan tawanya, dia masih memegang perutnya yang kegelian. “Hihi…iya-iya maaf deh pak, emang saya suka cerita horror sih jadi kebawa-bawa deh” katanya. “Sus kalau di tempat gini mending jangan omong macem-macem deh, soalnya yang gitu tuh emang ada loh” sahut dakter Maman dengan wajah serius. “Iya Pak, sori deh” katanya “eh iya nama saya Heni Puspita, panggil aja Heni, suster baru disini, maaf baru ngenalin diri…emmm Bapak dokter siapa yah?” sambil melihat ke dokter itu. “Kalau saya Suherman, tapi biasa dipanggil Maman aja, saya yang jadi dokter jaga di sini malam” pria setengah baya itu memperkenalkan diri. “Omong-omong Sus ini sudah lama di RS ini?” tanya si dokter. “Ya belum sih” kata Suter Heni. “Pantas baru saya lihat, saya sudah lihat namanya dalam jadwal tapi baru inilah saya lihat orangnya. Cantik!” kata Maman sambil memandang wajah cantik yang sedang mengobrol dengannya itu. Malam itu dokter Maman merasa beruntung sekali mendapat teman ngobrol seperti suster Heni, biasanya suster-suster lain paling hanya tersenyum padanya atau sekedar memberi salam basa-basi. Maklumlah mereka semua tahu kalau dokter Maman sudah beristri dan punya dua anak. Mereka pun terlibat obrolan ringan, pria itu tidak lagi mempedulikan buku bacaannya dan mengalihkan perhatiannya pada suster Hena yang ayu itu. Sejak awal tadi dokter Maman sudah terpesona dengan gadis ini. 

Pria normal mana yang tidak tertarik dengan gadis berkulit putih mulus berwajah kalem seperti itu, rambut hitamnya disanggul ke belakang tampak terbayang walau tertutup dengan jilbab panjangnya yang putihnya, tubuhnya yang padat dan montok itu lumayan tinggi (168 cm), pakaian perawat dengan bawahan rok panjang itu menambah pesonanya. Suster Heni sendiri baru berusia 24 tahun dan belum menikah. Untuk gadis secantik Heni sebenarnya tidak begitu susah mendapat pasangan ditambah lagi dengan bodinya yang montok dan padat, tentu banyak lelaki yang mau dengannya. 



Tapi sejauh ini belum ada pria yang cocok di hati Suster Heni. Sebagai wanita alim berjilbab dia sangat menjaga pergaulannya dengan lawan jenis. Namun malam ini dia gelisah juga melihat dokter Maman yang tampan dan gagah itu. Sayang dia sudah beristri, keluh Suster Heni dalam hati. Namun hati kecilnya tidak dapat dibohongi bahwa dia suka pada dokter Maman itu. Maman, si dokter, makin mendekatkan duduknya dengan gadis itu sambil sesekali mencuri pandang ke arah belahan dadanya membayang di balik baju panjang dan jilbab panjangnya. Suasana malam yang dingin membuat nafsu pria itu mulai bangkit, apalagi Pak Maman sudah seminggu tidak ngentot istrinya karena lagi datang bulan dan walaupun istri Maman lebih cantik dari Suster Heni, tapi dalam hal bodinya tentu saja kualitasnya kalah dengan suster muda di sebelahnya ini. Semakin lama dokter Maman semakin berani menggoda suster muda yang alim itu dengan guyonan-guyonan nakal dan obrolan yang menjurus ke porno. Suster Heni sendiri sepertinya hanya tersipu-sipu dengan obrolan mereka yang lumayan jorok itu. “Terus terang deh Sus, sejak Sus datang kok disini jadinya lebih hanget ya” kata Maman sambil meletakkan tangannya di lutut Heni dan mengelusnya ke atas sambil menarik rok panjang suter berjilbab itu sehingga pahanya mulai sedikit tersingkap. “Eh…jangan gitu dong Pak, mau saya gaplok yah ?!” Heni protes tapi kedua tangannya yang dilipat tetap di meja tanpa berusaha menepis tangan pria itu yang mulai kurang ajar. “Ah, Sus masa pegang gini aja gak boleh, lagian disini kan sepi gini, dingin lagi” katanya makin berani, tangannya makin naik dan paha yang mulus itupun semakin terlihat. “Pak saya marah nih, lepasin gak, bapak kan sudah punya istri, saya itung sampai tiga” wajah Heni kelihatannya BT,

 matanya menatap tajam si dokter yang tersenyum mesum. “Jangan marah dong Sus, mendingan kita seneng-seneng, ya?” sahut Dokter Maman, entah sejak kapan tiba-tiba saja pria tidak tau malu itu sudah di sebelahnya . Dokter jaga itu dengan berani merangkul bahu Heni dan tangan satunya menyingkap rok suster muda itu di sisi yang lain. Suster itu tidak bergeming, tidak ada tanda-tanda penolakan walau wajahnya masih terlihat marah. “Satu…” suster itu mulai menghitung namun orang itu malah makin kurang ajar, dan tangannya makin nakal menggerayangi paha yang indah itu, “dua…!” suaranya makin serius. Entah mengapa suster itu tidak langsung beranjak pergi atau berteriak saja ketika dilecehkan seperti itu. Si pria yang sudah kerasukan nafsu itu menganggapnya sandiwara untuk meninggikan harga diri sehingga dia malah semakin nafsu. “Tig…” sebelum suster Heni menyelesaikan hitungannya dan bergerak, si dokteritu sudah lebih dulu mendekapnya dan melumat bibirnya yang tipis. “Mmm…mmhh !” suster itu berontak dan mendorong-dorong Maman berusaha lepas dari dekapannya namun tenaganya tentu kalah darinya, belum lagi dokter Maman juga mendekapnya serta menaikkan rokknya lebih tinggi lagi. Heni merasa hembusan angin malam menerpa paha mulusnya yang telah tersingkap, juga tangan kasar dokter itu mengelusinya yang mau tak mau membuatnya terangsang. 

“Aahh…jangan…mmhh !” Heni berhasil melepaskan diri dari cumbuan si dokter tapi cuma sebentar, karena ruang geraknya terbatas bibir mungil itu kembali menjadi santapan Maman. Lalu tangan Pak Maman mulai meremas-remas dadanya yang masih tertutup seragam suster dan jilbab lebarnya – Maman dapat merasakan kalau tetek suster alai mini masih kencang dan padat pertanda belum pernah dijamah lelaki lain – sementara tangan satunya tetap mengelus paha indahnya yang menggiurkan. Heni terus meronta, tapi sia-sia malah pakaian bawahnya semakin tersingkap dan jilbab lebar perawat itu nyaris copot. 

Pak Maman melepaskan jaket cardigan pinknya suster Heni sehingga tinggal baju seragam perawatnya yang terlihat. Lama-lama perlawanan suster Heni melemah, sentuhan-sentuhan pada daerah sensitifnya telah meruntuhkan pertahanannya. Birahinya bangkit dengan cepat apalagi suasananya sangat mendukung dengan hujan yang masih mengguyur dan dinginnya malam. Ditambah lagi hati kecil suka dengan dokter Maman. Bulu kuduk Heni merinding merasakan sesuatu yang basah dan hangat di lehernya. Ternyata dokter Maman itu sedang menjilati lehernya yang jenjang dengan menyingkapkan jilbab panjang suster alim itu, lidah itu bergerak menyapu daerah itu sehingga menyebabkan tubuh Heni menggeliat menahan nikmat. Mulut Heni yang tadinya tertutup rapat-rapat menolak lidah Maman kini mulai membuka. Lidah kasap si doketr itu langsung menyeruak masuk ke mulut suster berjilbab itu dan meraih lidahnya mengajaknya beradu lidah. Heni pun menanggapinya, lidahnya mulai saling jilat dengan lidah pria itu, liur mereka saling tertukar. 

Sementara Pak Maman mulai melucuti kancing bajunya dari atas dan sekaligus mencopot jilbab panjang suster Heni, tangan perkasa dokter itu menyusup ke dalam cup branya, begitu menemukan putingnya benar-benar masih kencang dan padat, belum terjamah lelaki lain lalu langsung dimain-mainkannya benda itu dengan gemasnya. Di tengah ketidak-berdayaannya melawan dokter brengsek itu, Heni semakin pasrah membiarkan tubuhnya dijarah. Tangan doketr Maman menjelajah semakin dalam, dibelainya paha dalam gadis itu hingga menyentuh selangkangannya yang masih tertutup celana dalam. Sementara baju atasan Heni juga semakin melorot sehingga terlihatlah bra biru di baliknya. “Kita ke dalam aja biar lebih enak” kata Pak Maman. “Kamu emang kurang ajar yah, kita bisa dapet masalah kalau gak lepasin saya !” Heni masih memperingatkan dokter itu. “Udahlah Sus, kurang ajar- kurang ajar, kan lu juga suka ayo !” Maman narik lengan suster itu bangkit dari kursi. “Sus, seneng-seneng dikit napa? Dingin-dingin gini emang enaknya ditemenin cewek cantik kaya Sus” lanjut Pak Maman. Dokter Maman menggelandang suster alim itu ke ruang periksa pasien tempat mereka berjaga. Heni disuruh naik ke sebuah ranjang periksa yang biasa dipakai untuk memeriksa pasien. Selanjutnya pria itu langsung menggerayangi tubuh Virna yang terduduk di ranjang. Maman menarik lepas celana dalam gadis alim itu hingga terlepas, celana itu juga berwarna biru, satu stel dengan branya. Kemudian ia berlutut di lantai, ditatapnya kemaluan suster alim itu yang ditumbuhi bulu-bulu yang lebat, bulu itu agaknya rajin dirawat karena bagian tepiannya terlihat rapi sehingga tidak lebat kemana-mana. Hena dapat merasakan panasnya nafas pria itu di daerah sensitifnya.

 Pak Maman mempreteli kancing baju atasnya yang tersisa, lalu bra itu disingkapnya ke atas. Kini terlihatlah payudara suster Heni yang berukuran sedang sebesar bakpao dengan putingnya berwarna coklat. “Uuuhh…Pak!” desah Henia ketika lidah Pak Maman menelusuri gundukan buah dadanya. Lidah itu bergerak liar menjilati seluruh payudara yang kencang dan padat itu tanpa ada yang terlewat, setelah basah semua, dikenyotnya daging kenyal itu, puting mungil itu digigitinya dengan gemas. “Aahh !” tubuh Heni tiba-tiba tersentak dan mendesah lebih panjang ketika dirasakannya lidah panas Maman mulai menyapu bibir vaginanya lalu menyusup masuk ke dalam. Maklum Maman sudah pengalaman merangsang wanita. 

Heni sebagai gadis alim sebenarnya jijik melakukan hal ini dengan dokter Maman ini, tapi rupanya libidonya membuatnya melupakan perasaan itu sejenak. Mulut Pak Maman kini merambat ke atas menciumi bibirnya, sambil tangannya tetap menggerayangi payudaranya. Kemudian dokter itu kembali menghisap memek suster ini, si dokter makin membenamkan wajahnya di selangkangan Heni, lidahnya masuk makin dalam mengais-ngais liang kenikmatan suster muda itu menyebabkan Heni menggelinjang dan mengapitkan kedua paha mulusnya ke kepalanya Maman. “Nah, sekarang tinggal kita mulai Sus” kata Pak Maman membuka pakaiannya “pokoknya malam ini Bapak bakal muasin Sus hehehe!” Heni tertegun melihat pria gagah itu sudah telanjang bulat di hadapannya, tubuhnya terbilang kekar, penisnya yang sudah menegang itu lumayan besar juga dengan bulu-bulu yang tidak terlalu lebat. Dia naik ke ranjang ke atas tubuh gadis alim itu, wajah mereka saling bertatapan dalam jarak dekat. Kali tanpa penghalang sebab jilbab panjang suster alim itu sudah dicopot dokter Maman. 

Pak Maman begitu mengagumi wajah cantik Heni, dengan bibir tipis yang merah merekah, hidung bangir, dan sepasang mata indah yang nampak sayu karena sedang menahan nafsu. “Pak, apa ga pamali main di tempat ginian ?” tanya Heni. “Ahh…iya sih tapi masabodo lah, yang penting kita seneng-seneng dulu hehehe” habis berkata dia langsung melumat bibir gadis itu. Mereka berciuman dengan penuh gairah, Heni yang sudah tersangsang berat itu melingkarkan tangannya memeluk tubuh Pak dokter Maman. Ia masih memakai seragam susternya yang sudah terbuka dan tersingkap di mana-mana, bagian roknya saja sudah terangkat hingga pinggang sehingga kedua belah pahanya yang jenjang dan mulus sudah tidak tertutup apapun. Pak Maman sudah seminggu lamanya tidak menikmati kehangatan tubuh wanita sebab istrinya lagi datang bulan sehingga dia begitu bernafsu berciuman dan menggerayangi tubuh Heni. Mendapat kesempatan bercinta dengan gadis seperti Heni bagaikan mendapat durian runtuh, belum pernah dia merasakan yang sesintal dan montok ini, bahkan istrinya pun tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengannya meskipun lebih cantik dari pada Suster Heni. Setelah lima menitan berciuman sambil bergesekan tubuh dan meraba-raba, mereka melepas bibir mereka dengan nafas memburu. Pak Maman mendaratkan ciumannya kali ini ke lehernya. Kemudian mulutnya merambat turun ke payudaranya, sebelumnya dibukanya terlebih dulu pengait bra yang terletak di depan agar lebih leluasa menikmati dadanya. “Eemmhh…aahhh…aahh !” desahnya menikmati hisapan-hisapan dokter jaga itu pada payudaranya, tangannya memeluk kepala yang rambutnya lebat dan hitam itu. Heni merasakan kedua putingnya semakin mengeras akibat rangsangan yang terus datang sejak tadi tanpa henti. Sambil menyusu,

 pria itu juga mengobok-obok vaginanya, jari-jarinya masuk mengorek-ngorek liang senggamanya membuat daerah itu semakin basah oleh lendir. “Bapak masukin sekarang yah, udah ga tahan nih !” katanya di dekat telinga Heni. Suster Heni hanya mengangguk. Pak Maman langsung menempelkan penisnya ke mulut vagina gadis alim itu. Terdengar desahan sensual dari mulut gadis itu ketika Pak Maman menekan penisnya ke dalam. “Uuhh…sempit banget Sus, masih perawan ga sih ?” erang pria itu sambil terus mendorong-dorongkan penisnya. Heni mengerang kesakitan dan mencengkram kuat lengan pria itu setiap kali penis itu terdorong masuk ke dalam memeknya yang masih rapet itu. Setelah beberapa kali tarik dorong akhirnya penis itu tertancap seluruhnya dalam vagina suster alim itu. Darah mengalir dari memek suter alim itu. “Weleh-weleh, enaknya, legit banget Sus kalau masih perawan” komentar pria itu, “Belum pernah ngentot ya Sus sebelumnya, kalo boleh tau ?” Sebagai jawabannya Heni menarik wajah pria itu mendekat dan mencium bibirnya, agaknya dia tidak berniat menjawab pertanyaan itu. Pak Maman mulai menggoyangkan pinggulnya memompa vagina gadis itu. Desahan tertahan terdengar dari mulut Heni yang sedang berciuman. Pria itu memulai genjotan-genjotannya yang makin lama makin bertenaga. Lumayan juga sudah seusia hampir kepala empat tapi penisnya masih sekeras ini dan sanggup membuat gadis alim itu menggelinjang. Dia mahir juga mengatur frekuensinya agar tidak terlalu cepat kehabisan tenaga. Sambil menggenjot mulutnya juga bekerja, kadang menciumi bibir gadis itu, kadang menggelitik telinganya dengan lidah, kadang mencupangi lehernya. 

suster Heni pun semakin terbuai dan menikmati persetubuhan beda jenis ini. Dia tidak menyangka pria seperti dokter itu sanggup membawanya melayang tinggi. Pria itu semakin kencang menyodokkan penisnya dan mulutnya semakin menceracau, nampaknya dia akan segera orgasme. “Malam masih panjang Pak, jangan buru-buru, biar saya yang gerak sekarang !” kata gadis perawat itu tanpa malu-malu lagi. Pak Maman tersenyum mendengar permintaan suster itu. Merekapun bertukar posisi, Pak Maman tiduran telentang dan Heni menaiki penisnya. Batang itu digenggam dan diarahkan ke vaginanya, Heni lalu menurunkan tubuhnya dan desahan terdengar dari mulutnya bersamaan dengan penis yang terbenam dalam vaginanya. Mata Pak Maman membeliak saat penisnya terjepit diantara dinding kemaluan Heni yang sempit. Ia mulai menggerakkan tubuhnya naik turun dengan kedua tangannya saling genggam dengan pria itu untuk menjaga keseimbangan. “Sssshhh…oohh…yah…aahh !” Heni mengerang sambil menaik-turunkan tubuhnya dengan penuh gairah. Tangannya meraih ujung roknya lalu ditariknya ke atas seragam yang berupa terusan itu hingga terlepas dari tubuhnya. Seragam itu dijatuhkannya di lantai sebelah ranjang itu, tidak lupa dilepaskannya pula bra yang masih menyangkut di tubuhnya sehingga kini tubuhnya yang sudah telanjang bulat terekspos dengan jelas. Sungguh suster Heni memiliki tubuh yang sempurna, buah dadanya montok dan proporsional, perutnya rata dan kencang, pahanya juga indah dan mulus, sebuah puisi kuno melukiskannya sebagai kecantikan yang merobohkan kota dan meruntuhkan negara. Kembali Heni dan dokter jaga itu memacu tubuhnya dalam posisi woman on top. Heni demikian liar menaik-turunkan tubuhnya di atas penis Pak dokter Maman, dia merasakan kenikmatan saat penis itu menggesek dinding vagina dan klitorisnya. “Ayo manis,




goyang terus…ahh…enak banget !” kata Pak Maman sambil meremasi payudara gadis itu. Wajah Heni yang bersemu merah karena terangsang berat itu sangat menggairahkan di mata Pak Maman sehingga dia menarik kepalanya ke bawah agar dapat mencium bibirnya. Akhirnya Heni tidak tahan lagi, ia telah mencapai orgasmenya, mulutnya mengeluarkan desahan panjang. Pak Maman yang juga sudah dekat puncak mempercepat hentakan pinggulnya ke atas dan meremasi payudara itu lebih kencang. Ia merasakan cairan hangat meredam penisnya dan otot-otot vagina suster alim itu meremas-remasnya sehingga tanpa dapat ditahan lagi spermanya tertumpah di dalam dan membanjir, maklum sudah seminnggu gak dikeluarkan. Setelah klimaksnya selesai tubuh Heni melemas dan tergolek di atas tubuh dokter itu. Virna yang baru berusia 24 tahun itu begitu kontras dengan pria di bawahnya yang lebih pantas menjadi bapaknya, yang satu begitu ranum dan segar sementara yang lain sudah agak tua. “Asyik banget Sus, udah selama seminggu saya gak ginian loh !” ujar Pak Maman dengan tersenyum puas. “Gile nih malem, ga nyangka bisa dapet yang ginian” dia seperti masih belum percaya hal yang dialaminya itu. Ketika sedang asyik memandangi Heni, tiba-tiba Pak Maman nafsunya bangkit lagi dan minta jatah sekali lagi. Tangan Maman terus saja menggerayangi tubuh Heni, kadang diremasnya payudara atau pantatnya dengan keras sehingga memberi sensasi perih bercampur nikmat bagi gadis itu. 

Sedangkan Pak Maman sering menekan-nekan kepala gadis itu sehingga membuat Heni terkadang gelagapan. “Gila nih doketer, barbar banget sih” kata Heni dalam hati. Walau kewalahan diperlakukan seperti ini, namun tanpa dapat disangkal Heni juga merasakan nikmat yang tak terkira. Tak lama kemudian Maman menyiorongkan penisnya lalu berpindah ke mulut Heni. Heni kini bersimpuh di depan pria yang senjatanya mengarah padanya menuntut untuk diservis olehnya. Heni menggunakan tangan dan mulutnya bergantian melayani penis itu hingga akhirnya penis Maman meledak lebih dulu ketika ia menghisapnya. Sperma si doketr langsung memenuhi mulut gadis itu, sebagian masuk ke kerongkongannya sebagian meleleh di bibir indah itu karena banyaknya. Pria itu melenguh dan berkelejotan menikmati penisnya dihisap gadis itu. Tak lama kemudian Pak Maman pun menyemburkan isi penisnya dalam kocokan Heni, cairan itu mengenai wajah samping dan sebagian rambutnya. Tubuh Heni pun tak ayal lagi penuh dengan keringat dan sperma yang berceceran. “Sus hebat banget, sepongannya dahsyat, saya jadi kesengsem loh” puji Maman ketika beristirahat memulihkan tenaga. “Sering-sering main sini yah Sus, saya kalau malem kan sering kesepian hehehe” goda Pak Maman. Heni tersenyum dengan hanya melihat pantulan di cermin, katanya, “Kenapa nggak, saya puas banget malem ini, mulai sekarang saya pasti sering mendatangi dokter” Jam telah menunjukkan pukul setengah dua kurang, berarti mereka telah bermain cinta selama hampir satu setengah jam. Heni pun berpamitan setelah memakai jaket pinknya dan memakai kembali jilbab putih panjangnya.

 Sebelum berpisah ia menghadiahkan sebuah ciuman di mulut. Manam membalas ciuman itu dengan bernafsu, dipeluknya tubuh padat dan montok itu sambil meremas pantatnya selama dua menitan. “Nakal yah, ok saya masuk dulu yah !” katanya sebelum membalik badan dan berlalu. Lelah sekali Maman setelah menguras tenaga dengan perawat alim yang cantik itu sehingga selama sisa waktu itu agak terkantuk-kantuk. Setelah pagi mereka pun pulang dan tertidur di tempat masing-masing dengan perasaan puas. Setiap kali kalau ada jadwal piket bersama, mereka selalu ngentot. Dokter Maman bermaksud menjadikan Suster Heni yang alim berjilbab sebagai istri keduanya, oleh sebab itu dokter Maman tidak memakai alat kontrasepsi apa pun jika ngentot dengan Suster Heni. Maman ingin wanita alim itu hamil, hingga terpaksa mau menikah dengannya sebagai istri keduanya. Hebat Dokter Maman!





Cerita Dewasa Nafsu Ibu Rumah Tangga yang Montok

Cerita Dewasa Nafsu Ibu Rumah Tangga yang Montok





Aku punya tetangga bernama ibu Dhona Umurnya sekitar 45 tahunan Ia seorang Ibu Rumah Tangga dengan 3 orang anak yang sudah beranjak dewasa semua wajahnya biasa saja, hanya sedap dipandang mata Tubuhnya gemuk engga kurus pun enggak Montok dan sekel Sedangkan kulitnya kuning langsat, Rambutnya agak ikal sebahu lewat dan bibirnya agak lebar tapi tidak terlalu tebal Yang paling kusenangi adalah payudaranya sangat menggoda Anak pertamanya laki-laki, seorang tentara dan berdinas diluar pulau jawa Yang kedua perempuan bekerja sebagai seorang Pengawas Mutu (QC) di sebuah pabrik Yang bungsu sedang menempuh semester 4 di salah satu perguruan tinggi di Jakarta Alhasil, setiap hari bu Dhona tinggal sendirian di rumahnya Awal pertemuanku dengan bu Dhona terjadi pada saat sedang hajatan tetanggaku Ibu Dhona sebagai koordinator Urusan Dapur dan aku koordinator pemuda pemudi yang bertugas sebagai pager ayu dan pager bagus serta petugas kebersihan yang tugasnya ngangkutin piring kotor dan sampah Saat itu sudah jam 10 malam menjelang hajatan, aku sedang mempersiapkan janur yang sudah dirangkai dan siap dipasang Setelah urusan pemasangan janur aku serahkan kepada salah seorang kawanku, aku pun bersiap untuk pulang agar besok badanku segar dan tidak terlalu letih akibat begadang Tia-tiba sang empunya hajat memanggilku dan meminta tolong untuk mengantar Ibu Dhona ke pasar karena ada yang terlupa untuk dibeli Kusanggupi permintaannya dan ku nyalakan skuter tua buatan italiku Tak lama bu Dhona pun nyemplak dibelakang dan kami segera menuju pasar menembus gelapnya malam yang lumayan dingin “Pelan-pelan aja mas, saya takut!” celetuknya ketika vespaku kugeber agak kencang “Ga papa kok bu, udah biasa… abs kalo pelan jalannya ga enak!” kataku sekenanya Ia tidak menjawab dan malah mengalungkan tangannya ke perutku “Tar kalo kenapa-kenapa dijalan kamu tanggung jawab ya…?!?!?” katanya ketus Singkat cerita sampailah kami di pasar dan setelah mendapatkan apa yang dicari kami segera otw pulang Sialnya, ditengah jalan vespaku mogok entah kenapa Kuminta bu Dhona si ibu rumah tangga turun dan kuperiksa mesinnya Sekilas nampak raut kesal di wajah ibu Dhona “Tau begini tadi pake motor si Hendrik saja?!!” “Sebentar bu, biasanya kao ngadat begini cuma sebentar kok!” Kataku berupaya meredam kekesalan bu Dhona lalu setelah ku utak utik platinanya sang tunggangan pun kembali menyala Setelah menyala, kuuminta bu Dhona naik dan kami meneruskan perjalanan “Makanya jangan kenceng-kenceng! marah motor mu tuh!” kata bu Dhona “Hahahahaha… si ibu bisa aja!, namanya barang ttua ya begini bu , seuka ngadat!” “Eh belum tentu lho, ada juga barang tua yang ga pernah ngadat…!” sanggahnya “Emang ada bu? kalo ada saya mau tuh!!” jawabku… “Udah aha, konsentrasi sm jalan sana! Tar nabrak lagi!” omelnya “Oke mami siap laksanakan” “Mami mami, emangnya aku germo!??” jawabnya sambil mencubit perutku pelan “AOWWW, sakit bu!” dan sepeda motorku sedikit oleng… uppsss, dengan sedikit skill motor kembali dapat kukendalikan “Udah ah jangan becanda mulu, tar jatoh lagi” Skip story sampe juga kami di alamat semula “Her, langsung anter aku ke rumah aja, besok aja lah belanjaannya dianterinnya dipakenya juga buat sorenya kok!” bu Dhona memintaku “ya udah, gapapa” motor ku belokkan ke arah gang bu Dhona si ibu rumah tangga “Makasih ya, eh km ada nmr hp saya ga? supaya besok gampang buat koordinasi!” kata bu Dhona setibanya di pagar depan rumahnya, kami pun bertukar no hp masing masing Sampe dirumah tiba2 hpku berbunyi SMS dari bu Dhona ‘Her, km bs dateng ke rumha ga? sklian bawa baju yg td disewa saya mau fitting tadi lupa’ Aku berkerut, oh iya tadi sore aku ditugaskan mengambil baju sewaan buat orang2 yang bertugas di pramanan ‘Ok bu saya kesana’ jawabku dan lsg kusambar tas plastik yang berisi baju dan kain sewaan sampai dirumah bu Dhona, baru mau aku ketuk pintu pager bu Dhona sudah muncul dari dalam rumah Aduuhhh… dia pakai baju tidur diatas lutut, menampilkan kakinya yang padat berisi serta pahanya yang mulus, walaupun terlihat masih memakai bra, dadanya yang montok sempat membuatku menelan ludah “Hey malah bengong ayo masuk, mana bajunya?” aku kaget setengah mateng saat tangannya mengusap wajahku Halus sekali… dan wangi … entah lotion entah parfum… aku pun masuk mengikuti bu Dhona si ibu rumah tangga … Alamak bokongnya sangat menggoda… Setelah didalam, aku dipersilahkan duduk dan basa basi sebentar, “herna kemana bu?” kataku menyakan anaknya yang bungsu “Oh, dia lagi ke tempat kawannya Katanya ada tugas kuliah, besok paling dia pulang” setelah ngobrol sedikit, ia pun membawa tas plastik itu kedalam dan agak lama aku menunggu di ruang depan rumahnya Selama penantian itu aku membayangkan sedang bergumul dengannya dikasur dan melepaskan hasratku yang terpendam dengannya Saling mencium, saling menjilat dan saling meraba 15 menit berlalu dan ia kembali ke ruang depan sambil menenteng tasnya “Aduh maaf ya her, kelamaan eh kamu mau minum ga??? sampe lupaaa… tar ya saya ambilin minum dulu… mau kopi apa kopi susu? Kopi susu aja yah, kopi hitamnya saya lupa udah abis…” katanya nyerocos… ” Ga usah bu… gapapa !” percuma aku menjawab karena bu Dhona si ibu rumah tangga sudah ngeloyor ke belakang Tak lama ia kembali sambil membawa secangkir kopi “maaf, kopi susunya yang abis, ga taunya adanya kopi item” “Gapapa kok bu ga usah repot-repot” Sambil menikmati kopi, kami mengobrol ngalor ngidul sampe akhirnya ku tahu suaminya pergi meninggalkan dia saat anaknya yang bungsu masih kelas 2 SD, demi meraih cinta seorang pramugari Diam-diam kuambil gambarnya pake hpku Pembicaraan semakin hangat bahkan mulai menjurus ke hal2 yang berbau XXX “Kopinya mau nambah ga? tapi kalo mau kopi susu ga ada…” tanya bu Dhona saat melihat isi cangkir yang tinggal setengah “Gapapa, bu Udah cukup Lagian kopinya juga udah berasa kopi susu kok!” jawabku sambil nyegir “Lho kok bisa gitu?” bu Dhona kelihatanya bingung dengan jawabanku “Iya dari tadi udah pake susu… walau hanya pandangan… hehehehe…” “eeeehhh… kamu… genit ya! berarti kamu dari tadi ngintipin nenen saya ya? dasar genitt ih!” katanya sambil kembali mengusap wajahku Kali ini kutangkap tangannya dan ku cium jarinya Nampak bu Dhona si ibu rumah tangga agak terkejut menerima perlakuanku, tapi hanya sepersekian detik saja Ia hanya diam saja ketika aku mulai menciumi dan menjilati jari tangannya Namun ia kemudian menarik tangannya “Mmmmaaaffhh… bu… maaaf… saya terbawa suasana… ” kataku mencari pembenaran Bu Dhona tak menjawab dan hanya menarik nafas panjang, tak lama ia ke belakang samb il membawa cangkir kopiku yang sudah habis Aduh, ngambek dia… pikirku Salah sendiri ga pake basa basi pikirku wah kacau ni bisa nanti Beberapa saat kemudian ia kembali ke depan dan aku pun bersiap untuk pamitan “Her, maksud kamu apa tadi?” Gemet aku ter… “MMaaafff bu… maaf… kalo ibu tersinggung… maaf sekali lagi Saya terbawa suasana Abis ibu pakeannya bkn sy jelalatan…” “Gapapa Her, saya cuma kaget aja kamu kok berani begitu sma saya Eh, kamu jangan pasang wajah melas gitu doong… serius her, saya ga marah… “ “Beneran bu, ibbu ga marah?” tanyaku lagi “Enggak, ga marah beneraan… suerr!” Bu Dhona si ibu rumah tangga malah mendekati tempat aku duduk dan memegang bahuku “Kamu udah buat darah saya berdesir, waktu kamu isapin jari saya Her, saya… saya… ” bu Dhona tidak meneruskan kata-katanya dan malah memeluk saya Saat toket nya menempel, serasa darah ini berkumpul di kepala dan kaget bukan kepalang dengan perlakuan bu Dhona ini Belum selesai kaget ku, bu Dhona lalu memegang kedua pipiku, “Saya mau lebih dari itu, kamu mau ga??” Sumpah,

 lelaki ****** dan homo saja yang ga mau memberikan lebih dari sekedar mengisap dan menjilati jari wanita seperti bu Dhona ini “Bu, Ibu serius??” “Serius, bahkan sejuta rius!!” katanya sambil masih memegangi kedua belah pipiku Baru aku mau ngommong tiba tiba bu Dhona menarik kepalaku dan mengecup bibirku berulang-ulang Lama-lama kecupannya berubah menjadi lumatan di bibirku Mendapat serangan seperti itu, kukalungkan taanganku dilehernya dan balas melumat bibirnya dengan lembut Kami sangat menikmati permainan bibir itu, sampai-sampai bu Dhona kutidurkan di sofa sambil terus melumat bibirnya dengan lembut Perlahan aku turunkan bibirku ke arah dagunya dan semakin turun ke lehernya Bu Dhona hanya bergelinjang dan mendesah-desah nikmat, membuat aku semakin terangsang Ku belas payudaranya yang selama ini hanya kudambakan dalam lamunan pada setiap acara onaniku Bu Dhona si ibu rumah tangga makin menggelinjang dan semakin belingsatan saat ku remas halus payudaranya dari luar Tiba-tiba ia mendorong tubuhku dan mengangkat bagian bawah bajunya, “liat nih… kamu harus bertanggung jawab…” katanya sambil memnunjukkan celana dalamnya yang kelihatan basah “Mau dituntaskan bu?” tanyaku sedikit menantang “Dikamar aja yuk!?” jawabnya akupun hanya mengangguk dan mengikuti bu Dhona yang berjalan ke kamarnya Di kamar, kami melanjutkan acara saling memagut dan melumat bibir “Her, puasin aku malam ini!” katanya padaku Ia pun berdiri dan melepas bajunya Nampaklah payudaranya yang memang lumayan besar tapi agak kendor Bu Dhona sekarang tinggal memakai bra dan cdnya saja Nampak memeknya yang tembem tertutup celana dalam putih dan depannya basah akibat permainan tadi Lalu bu Dhona naik ke kasur dan menciumi bibirku kembali dengan posisi berlutut Kusambut ciumannya sambil meremas lembut payudaranya Sambil berciuman, kucoba melepas kaitan bra-nya dan setelah berhasil kujilati pentilnya dan kuremas pelan Sambil kuhisap payudaranya yang sebelah kiri, kuremas payudara yang sebelah kanan Bergantian kujilati dan kuhisapi kedua payudara bu Dhona sambil a masih berlutut menghadapku Tak lama ia merapatkan perutnya dan mengoyang-goyangkan memeknya didadaku sambil terus mendesah, dan gak lama ia memeluk tubuhku erat sambil melenguh panjang, “ooooowwwwwwhhh… aaah… sssssssshhhh emmhhh… aaahh… aaahhh … aaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhh!!!!!” Orgasme rupanya dia “Her buka pakaianmu… her, pliiisss… puasin aku malem ini her…” wajahnya nampak memelas sekali Segera kulepas semua pakaian dari yang terluar sampai yang terdalam Kontolku yang sudah ngaceng seddari tadi pun tegak terangguk-angguk menanti sasaran tembak Tanpa banyak komentar, bu Dhona si ibu rumah tangga langsung menciumi bijiku dengan lembut sesekali ia mengulum biji pelerku dan menjilatinya 



Baca Juga : 7 Fakta dan cerita unik tentang Bercinta


Setengah mampus aku menahan geli enak dan rasa aneh saat ia mengulum biji pelerku Rasa-rasa ingin kencing, linu dan rada-rada enek… Kubelai rambutnya sambil sebelah tanganku mengusap punggungnya yangg halus Lalu ia mulai menciumi bataang kontolku dan memasukannya kemulut Ahh… aahhh… enak bu enakh… ah…aaaahhh… ssshhh… aaaahhhh… itu yang kukatakan saat kepalanya maju mundur mengulum kontolku Tak tahan melihat pantatnya yang bulat, segera kutarik pahanya keatas, dan dalam sekejap kami sudah berada dalam posisi 69 kujilati memeknya dengan penuh sukacita, kadang kadang-kadang kutekan lidahku di clit-nya sambil terus meremas pantatnya Bu Dhona si ibu rumah tangga nampak terbawa dengan permainan ini dan ia mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya dan terkadang menekannya ke mukaku sampai-sampai aku susah bernapas 5 menit berselang ia melepaskan kulumannya pada kontolku dan meremas betisku dengan keras sambil mengejang dan mengerang Bahkan mukaku ditekannya menggunakan memeknya Oooooohhh… aaaarrrrggghhhh… aaaaahhh… ssshhhhhhh… aaaaaahhhhh… dan terasa ada yang mengalir dan membasahi bibir dan mulutku Orgasme lagi dan tercium aroma khas cairan lendir wanita di hidungku dan mengalir menuju mulut dan lidahku Segera kusapu dan kuhisap sambil sesekali menghisap clitnya Bu Dhona menggulinggkan tubuhnya dan tergolek lemas setelah mendapatkan orgaasme keduanya Kuambil insiatif dengan melebarkan pahanya dan mulai kutusuk dia dengan kontolku Kuulek-ulek sedikit permukaan memeknya denga kepala kontolku dan bu Dhona mulai terangsang lagi Perlahan mulai kumasukkan kontolku, sambil terus mengulek permukaan memeknya Blesshhh… cleepppp… perlahan namun pasti kontolku mulai memasuki area persengamaan bu Dhona sambil diikuti erangan dan lenguhan kenikmatan bu Dhona si ibu rumah tangga ooooohhhh… sssshhhhh…… sssshhhhh… terusssshhhh… herrr… mmmmmasssukiiinnn yg dalemmmmhhh ohhhh… Kugenjot memek bu Dhona dengan kecepatan biasa dengan posisi dua kaki bu Dhona berada di bahuku sedangkan aku mengambil posisi berlutut sambil maju mundur menggenjot memek bu Dhona aaahhh… ahhhh…aaahhhh… aaahhh… bu Dhona terus mendesah seperti itu setipa kontolku ku masukkan Tak lama leherku dijepi oleh kedua kaki bu Dhona dan ia mengangkat pantatnya keatas sambil melolong panjang … hhhhhnnnnggggkkkkkkkhhhh ahhh… aaahhh… aaahhh… kembali bu Dhona merasakan orgasmenya Kuturunkan kaki Bu Dhona dan kuarahkan aga bu Dhona si ibu rumah tangga tidur dengan posisi menyamping Ku angkat kaki sebelah kanannya dan kumasukan lagi kontolku ke memeknya dengan posisi menyamping dan menduduki kakinya yang sebelah kiri Perlahan namun pasti, sambbil menggenjot kupegangi kaki kanannya maju mundur, lama kelamaan ku percepat genjotanku sambil memilin2 pentil susu bu Dhona Menerima perlakuanku bu Dhona makin belingsatan dan terus ber ah oh membuat libidoku semakin memuncak Ku percepat kocokanku dan akhirnya sambil menjilati betis bu Dhona kulepaskan pejuhku kedalam memek bu Dhona… Huuuuaaaahhhhh… aaaahhhhh… 

mmmmhhhhh… crrrroooottttt… crroooootttthh… crooooooooottthh… sekitar lima kali kutembak memek bu Dhona si ibu rumah tangga dengan pejuhku Terasa lemas badanku Serasa copot semua persendian badan… akupun melorot dan rebah disambping bu Dhona… kupeluk badannya dan kucium pipi dan bibirnya dengan mesra… makasih sayang… saya senang dan puas melakukan ini sama bu Dhona Ia hanya tersenyum dan mengusap-usap dadaku Kami berpelukan dan berciuman sekitar 2 menitan Lalu bu Dhona berdiri dan mengambil cdnya Ia lalu mengelapi memeknya yang basah Setelah itu, ia pun kemudian mengelapi kontolku yang mulai mengendor usai bertempur Ia lalu mencium bibirku dan berdiri kembali, “aku ke kamar mandi dulu sayang…” katanya sambil berlalu tanpa busana ke kamar mandi Aku hanya terbaring tersengal2 mengatur napasku Tak lama aku tertidur… bertelanjang bulat di kamar bu Dhona… aku terbangun saat terasa ada yang geli di daerah kontolku Saat kubuka mataku, bu Dhona sedang asyik mengulum kontolku Kubelai lembut rambutnya sambil melenguh menahan nikmat Tak lama setelah kontolku tegak lurus kembali, bu Dhona mengambil posisi duduk membelakangiku 




Dimasukkannya kontolku kedalam memeknya disertai desahan panjang aaaahhhhh… ssshhhhh… lau ia turun naik mengocok kontolku dengan memeknya Sekitar 3 menit kemudian ia kembali mencapai puncak kenikmatannya sambil bersujud dan kontolku kembali dibasahi oleh lendir kenikmatan bu Dhona si ibu rumah tangga Kupegang pantat bu Dhona agar dia tetap dalam posisi bersujud Kosodok lagi dia dan kami lakukan doggy style Crek…ccreeekk…plok … plookkk crek… creeek… hnya suara itu yang terdengar saat kontolku menyodok memek bu Dhona dari belakang Tak lama terasa aku ingin keluar dan kurapatkan paha bu Dhona dan kutembak lagi dengan pejuhku memeknya… oooooouuuughhhh… aaaaaaaaahhhhh… hanya kata itu yang terucap saat kulepaskan pejuhku… bu Dhona lalu berbalik dan menciumi bibirku “Makasih sayang, kamu udah puasin aku malem ini… Aku mau malem-malem selanjutnya juga kamu bisa puasin aku…” “sama-sama, ternyata benar… ga semua perabotan tua itu usang Buktinya Bu Dhona si ibu rumah tangga perabottannya masih oke banget… aku suka banget…” kataku… bu Dhona hanya mencibir dan menjulurkan lidahnya… weeek katanya Bu Dhona bangkit menuju kursi di depan meja riasnya sambil nungging ia membersihkan memeknya yang basah kuyup Melihat pemandangan itu, kontolku perlahan mulai naik lagi dan kudekap bu Dhona dari belakng sambbil menciumi bagian belakang lehernya Tak tahan berlama-lama, kuangkat kaki sebelah kanannya dan kusodok lagi memeknya dengan kecepatan sedang Ku sodoki terus memeknya dari belakang sambil memegangi kaki kanannya dan menjilati leher belakangnya sekitar 5 menit ku entot bu Dhona dari belakang dan akhirnya aku pun melepaskan pejuhku untuk yang kesekian kalinya di dalam memeknya yang hangat dan nikmat… “Udah dong sayang… dengkulku rasa mau copot nih… ” kata bu Dhona si ibu rumah tangga memelas… 

Karena lemas mungkin bu Dhona nggelosor di bawah meja rias kuangkat tubuhnya dengan susah payah dan kurebahkan di kasur… lalu kamipun tertidur berpelukan dengan kondisi lelah dan telanjang bulat Ditambah pula selangkangan yang lengket karena lendir yang belum sempat dibersihkan Pagi harinya kami tersentak kaget karena nampak hari sudah terang Terburu-buru kami menuju kamar mandi dan mandi bareng sambil cekikikan mengingat kejadian tadi malam Selepas mandi, dengan bertelanjang bulat kami menuju kamar bu Dhona dan aku segera mengganti pakaian dengan baju adat Saat kami berpakaian, aku sempat terangsang lagi saat melihat bu Dhona si ibu rumah tangga berdandan sambil telanjang bulat Namun dengan lembut bu Dhona menolak segal uapayaku untuk mengajaknya bercinta “jangan dulu ah, tar repot… harus mandi dan keramas lagi!!” katanya “nanti aja selesai hajatan, dan anakku gak pulang lagi Kamu boleh apain aja aku…” Aku tak menjawab hanya mengusap memeknya dengan lembut dan mencium pipinya saja Di tempat hajatan, Bu Dhona tak mau jauh denganku Bahkan dibawah meja tangannya selalu mengusap-usap kontolku dengan pelan dan lembut Saat kontolku tegang ia hanya tertawa cekikikan sambil pergi meninggalkan aku yang bersungut-sungut susah payah menenangkan adekku yang berdiri Sampe sekarang, aku sudah beristri dan beranak pun, kadang-kadang kami masih melakukannya Sekarang bu Dhona si ibu rumah tangga sudah berusia 55 tahun dan memeknya masih gurih dan sedap setiap kali kuentotin. END



Saturday, June 1, 2019

Cerita Hot Pengalaman Ngentot Dimalam Pertama

Cerita Hot Pengalaman Ngentot Dimalam Pertama

Cerita Hot Pengalaman Ngentot Dimalam Pertama



Usiaku 24 tahun ketika aku mendirikan rumahtangga dengan suami ku, Beliau sebenarnya bukan lah pilihan ku tetapi atas kehendak orang tuaku aku terima sahaja kehendaknya. Aku mempunyai bahan yang agak gempal sedikit muka bulat dan berkulit cerah.kalau nak buat perbandingan adala macam kuna pelakon drama tu. manakala suamiku berbadan besar dan tinggi, berkulit agak gelap memang sebijik macam pelakon dan penyanyi kumon.Dihari pernikahan aku x rasa keseronokan sebagai seorang yang hendak berumah tangga hanya kurasa macam biasa je. ialah mungkin perasaan cinta tu tak ujud lagi dalam diri aku. majlis kenduri diadakan secara sederhana tetapi nampaknya agak meriah dan ramailah saudara mara dan kawan-kawanku datang. mereka semua mengucapkan tahniah serta membawa berbagai hadiah.

menjelang petang setelah ramai tetamu dan saudara mara pulang hatiku telah mula berdebar-debar apa yang harus aku buat nanti dengan suamiku. aku lihat dia dah mula selesai berborak dan masuk kedalam bilik. aku mula buat-buat banyak kerja tolaong kemas kerusi la. cuci pinggan la dan banyak lagi.
hingga ditegur oleh kakak ku. apa kau buatni pegila naik atas kau tu pengantin. Sebenarnya aku dah tak pakai baju pengantin lagi. masa buat kerja-kerja tadi aku dah salin pakai seluar labuh dan baju t lengan panjang. serta bertudung.

memandangkan haripun dah hapir gelap nak tak dak aku terpaksa juga naik kerumah dan masuk kebilik.kulihat suamiku tengah duduk di katil dengan hanya berkain pelekat tampa baju. aku jadi terkejut, sebab tak pernah tengok dia dalam keadaan begitu.aku pun dengan malu-malu terus je masuk dan pegi ka almari untuk ambik tuala sebab nak mandi. tiba-tiba kurasa suamiku dah ada ka belakang aku. aku jadi makin gelabah. dengan perlahan aka dapat rasakan yang tangannya telah menyentuh bahuku lalu memusingkan badanku untuk mengadapnya. aku jadi malu dan hanya tunduk sahaja. tetapi perasaan cinta dan sayang masih belum lagi timbul dalam diriku. aku hanya pasrah dan
membiarkan apa yang bakal berlaku kepada ku. lagipun akunikan isterinya yang sah, jadi terpulanglah apa dia nak buat.

Setelah itu tangannya yang besar mula menjalar ketengkukku hingga kurasa semua bulu roma ku naik. kemudian dia dongakkan mukaku dan dengan sepantasnya dia mencium bibirku. terkecut aku sebab inilah kali pertama bibirku dikucup.kemudian mulutnya mula menjalar keseluruh mukaku sampai leherku pun dikucup menyebabkan aku menggeliat kegelian. Kemudian tangannya yang tadi ada dibahu kini telah mula mendarat di bukitku yang kurasa telah mula mengeras.Walaupun masih dibaluti dengan baju dan bra tapi aku dapat merasa sentuhan tangannya yang besar.
setelah agak puar digonyok dan di gosok-gosok payu daraku, kini dengan perlahan dia telah membuka bajuku. aku diam dan merelakan sahaja. maka tersembullah bah dadaku yang masih ditutupi bra hitam dan itu pun hanya seketika kerana dengan tiba-tiba ianya telah melurut keluar dari tubuh ku. Kini terserlah buah dadaku. Suamiku kini menikmati keindahan bentuk dan kepejalan buah dadaku. Satu situasi yang tidak pernah kualami. sebelum ini.Suamikudengan lembut menjilat puting susuku , menghisapnya, menyonyotnya dan mengigitnya dengan manja dan sedikit rakus. Syahwat hangat menguasai diriku.

Aku mengeliat kegelian. Tangannya terus menyentuh tundunku yang dipenuhi dengan bulu-bulu yang lebat. Terus terang aku tidak pernah mencukur buluku yang lebat namun aku sering mencucunya dengan pencuci yang selalu kubeli dari temanku.Kemudian sumiku terum membaringkan aku diats katil penganting yang masih kemas dan cantik. dan dengan segera dia menarik seluarku dan seluardalamku sekali gus dan dicampakkanya ditepi katil. aku dengan segera menutup cipapku sebab kulihat suamiku memerhatikan dengan penuh geram. tampa kuduga suamiku mengankat tangan ku dan terus menciumi cipapku .tiba-tiba aku rasa satu kelainnan dan dapat kurasai lidahnya menerokai kelentit, lurah dan lubang pussyku, sekali lagi rasa ghairah yang tidak boleh kugambarkan dengan kata-kata menjalar pada seluruh tubuhku. Aku pernah mendengar bab oral sex tapi aku tidak pernah terduga akan dilakukan sebegini pada malam pertama

ini. Rupanya dalam diam suami memiliki kepakaran dan tahu teknik memuaskan wanita.
Jilatan suamiku ke atas pussyku begitu lama sehingga aku orgasm beberapakali dengan menjerit-jerit kuat kerana menikmati nikmat yang amat sangat. Aku kini mula membalas tiap serangan suamiku. Aku mengucup dan lidahku bermain dalam mulutnya. Sedap dan nikmat. Pintu lubang cipapku diketuk, terasa sesuatu yang keras dan besar sedang mengacah-acah. aku menolak sidikit tubuh suamiku kerana aku rasa agak sakit. Pencarian bertemu. Dapat kurasakan kepala kote Suamiku ditenang pada sasarannyam lubang farajku! aku sempat menjeling untuk melihat kotenya memang besar suma nampak



agak ******** kemudian kurasa bibir cipapku dikuak oleh batang suamiku.
Terasa sakit dan nyilu yang amat sangat, aku mula menangis kerana sakit. tapi suamiku terus saja menerobos cipapkur dan batang zakar suamiku kini menujah keluar masuk dalam lubang pukiku secara perlahan-lahan, dan kesakitan yang ku alami tadi kini mula bertukar menjadi kenikmatan. Satu kenikmatan yang tak pernah kurasai. Batang suamiku semakin jauh dan dalam menerokai farajku dan mulut pukiku cuba mengulum batang suamiku yang besar dan keras itu. Dinding vaginaku yang digesel oleh kasarnya kulit batang Abang N membuatkan aku merasa geli dan ngilu. Memang batang butuh yang suamiku miliki jauh lebih besar dan tegang dari apa yang aku pernah bayangkan. Akhirnya pangkal kemaluan kami bertaup rapat, terasa farajku
dipenuhi seluruh batang suamiku. Senakkkk!!


suamiku melakukan henjutan perlahan sehingga perlakuan sorong dan tarik menjadi semakin rancak. Pukiku dihentak dengan kuat. Aku merasakan kepala kote suamiku berdenyut dan mengembang mencecah lalu menujah g-spot cipapku. Aku kegelian yang amat sangat. Lubang pukiku berlendir dan lencun. Aku semput nafas dan syahwatku menguasai tubuhku. Setiap kali suamiku merodok butuhnya terasa terperosok farajku ke dalam, dan bila di tariknya pula bibir puki ku mengikut keluar semuanya. Dan ketika itu aku mendapat orgasmeku

Aku cuba mengemut dan kesendatan lubang pukiku agak menyukarkan kerja-kerja mengemut namun suamiku mendesah dan mengerang dan menjerit kecil. Bab aku pula jangan cakaplah. Desah, renggek, raung, jerit dan tangisku, semua bercampur baur bila suamiku terus mempompa dan menujah butuhnya dalam pukiku begitu lama. Aku merasa bibir farajku melecet, koyak dan pedih. Yang penting sebagai seorang perempuan, aku punya nafsu, aku punya keinginan, persetubuhan bukan hak lelaki sahaja..Jadi apa salahnya aku menikmati peluang yang ada sekarang?
Sedar tak sedar 30 minit butuh suamiku berendam di dalam tasik farajku. Aku kagum dengan suamiku, aku mencapai multiple orgasm dan tubuhku mengejang sekejang-kejangnya beberapa kali .Tiba-tiba dia menjerit dan aku memegang lalu menarik buntut suamiku rapat ke cipapku. Tiba-tiba aku merasa ledakan air mani suamiku ke g-spot di lubang pussyku. Hangattt!!! Aku turut menjerit sambil mengucup keras mulut suamiku dengan nafasku yang besar dan kasar. suamiku terus menciumiku sambil membiarkan butuhnya terus berendam di dalam farajku. sesudah itu aku pun terbaring kepuasan dan tampa kusedari aku terlena kerana kepenatan.(ceritalucahku.********.com)
Walaupun pada mulanya aku tak berapa suka dengan suamiku tapi kini aku amat menyayanginya dan a ku seakan menjadi kemaruk. Aku mahu butuh suamiku senantiasa berada dalam pukiku. Walaupun suamiku tak hansem dan badannya pon besar tapi aku sangat puas dan bahagia dan hingga kini suamiku masih segagah dulu biarpun kami tah mempunyai 4 orang anak. 

Usiaku 24 tahun ketika aku mendirikan rumahtangga dengan suami ku, Beliau sebenarnya bukan lah pilihan ku tetapi atas kehendak orang tuaku aku terima sahaja kehendaknya. Aku mempunyai bahan yang agak gempal sedikit muka bulat dan berkulit cerah.kalau nak buat perbandingan adala macam kuna pelakon drama tu. manakala suamiku berbadan besar dan tinggi, berkulit agak gelap memang sebijik macam pelakon dan penyanyi kumon.Dihari pernikahan aku x rasa keseronokan sebagai seorang yang hendak berumah tangga hanya kurasa macam biasa je. ialah mungkin perasaan cinta tu tak ujud lagi dalam diri aku. majlis kenduri diadakan secara sederhana tetapi nampaknya agak meriah dan ramailah saudara mara dan kawan-kawanku datang. mereka semua mengucapkan tahniah serta membawa berbagai hadiah.
menjelang petang setelah ramai tetamu dan saudara mara pulang hatiku telah mula berdebar-debar apa yang harus aku buat nanti dengan suamiku. aku lihat dia dah mula selesai berborak dan masuk kedalam bilik. aku mula buat-buat banyak kerja tolaong kemas kerusi la. cuci pinggan la dan banyak lagi.



hingga ditegur oleh kakak ku. apa kau buatni pegila naik atas kau tu pengantin. Sebenarnya aku dah tak pakai baju pengantin lagi. masa buat kerja-kerja tadi aku dah salin pakai seluar labuh dan baju t lengan panjang. serta bertudung.
memandangkan haripun dah hapir gelap nak tak dak aku terpaksa juga naik kerumah dan masuk kebilik.kulihat suamiku tengah duduk di katil dengan hanya berkain pelekat tampa baju. aku jadi terkejut, sebab tak pernah tengok dia dalam keadaan begitu.aku pun dengan malu-malu terus je masuk dan pegi ka almari untuk ambik tuala sebab nak mandi. tiba-tiba kurasa suamiku dah ada ka belakang aku. aku jadi makin gelabah. dengan perlahan aka dapat rasakan yang tangannya telah menyentuh bahuku lalu memusingkan badanku untuk mengadapnya. aku jadi malu dan hanya tunduk sahaja. tetapi perasaan cinta dan sayang masih belum lagi timbul dalam diriku. aku hanya pasrah dan
membiarkan apa yang bakal berlaku kepada ku. lagipun akunikan isterinya yang sah, jadi terpulanglah apa dia nak buat.

Setelah itu tangannya yang besar mula menjalar ketengkukku hingga kurasa semua bulu roma ku naik. kemudian dia dongakkan mukaku dan dengan sepantasnya dia mencium bibirku. terkecut aku sebab inilah kali pertama bibirku dikucup.kemudian mulutnya mula menjalar keseluruh mukaku sampai leherku pun dikucup menyebabkan aku menggeliat kegelian. Kemudian tangannya yang tadi ada dibahu kini telah mula mendarat di bukitku yang kurasa telah mula mengeras.Walaupun masih dibaluti dengan baju dan bra tapi aku dapat merasa sentuhan tangannya yang besar.
setelah agak puar digonyok dan di gosok-gosok payu daraku, kini dengan perlahan dia telah membuka bajuku. aku diam dan merelakan sahaja. maka tersembullah bah dadaku yang masih ditutupi bra hitam dan itu pun hanya seketika kerana dengan tiba-tiba ianya telah melurut keluar dari tubuh ku. Kini terserlah buah dadaku. Suamiku kini menikmati keindahan bentuk dan kepejalan buah dadaku. Satu situasi yang tidak pernah kualami. sebelum ini.Suamikudengan lembut menjilat puting susuku , menghisapnya, menyonyotnya dan mengigitnya dengan manja dan sedikit rakus. Syahwat hangat menguasai diriku.

Aku mengeliat kegelian. Tangannya terus menyentuh tundunku yang dipenuhi dengan bulu-bulu yang lebat. Terus terang aku tidak pernah mencukur buluku yang lebat namun aku sering mencucunya dengan pencuci yang selalu kubeli dari temanku.Kemudian sumiku terum membaringkan aku diats katil penganting yang masih kemas dan cantik. dan dengan segera dia menarik seluarku dan seluardalamku sekali gus dan dicampakkanya ditepi katil. aku dengan segera menutup cipapku sebab kulihat suamiku memerhatikan dengan penuh geram. tampa kuduga suamiku mengankat tangan ku dan terus menciumi cipapku .tiba-tiba aku rasa satu kelainnan dan dapat kurasai lidahnya menerokai kelentit, lurah dan lubang pussyku, sekali lagi rasa ghairah yang tidak boleh kugambarkan dengan kata-kata menjalar pada seluruh tubuhku. Aku pernah mendengar bab oral sex tapi aku tidak pernah terduga akan dilakukan sebegini pada malam pertama

ini. Rupanya dalam diam suami memiliki kepakaran dan tahu teknik memuaskan wanita.
Jilatan suamiku ke atas pussyku begitu lama sehingga aku orgasm beberapakali dengan menjerit-jerit kuat kerana menikmati nikmat yang amat sangat. Aku kini mula membalas tiap serangan suamiku. Aku mengucup dan lidahku bermain dalam mulutnya. Sedap dan nikmat. Pintu lubang cipapku diketuk, terasa sesuatu yang keras dan besar sedang mengacah-acah. aku menolak sidikit tubuh suamiku kerana aku rasa agak sakit. Pencarian bertemu. Dapat kurasakan kepala kote Suamiku ditenang pada sasarannyam lubang farajku! aku sempat menjeling untuk melihat kotenya memang besar suma nampak




agak ******** kemudian kurasa bibir cipapku dikuak oleh batang suamiku.
Terasa sakit dan nyilu yang amat sangat, aku mula menangis kerana sakit. tapi suamiku terus saja menerobos cipapkur dan batang zakar suamiku kini menujah keluar masuk dalam lubang pukiku secara perlahan-lahan, dan kesakitan yang ku alami tadi kini mula bertukar menjadi kenikmatan. Satu kenikmatan yang tak pernah kurasai. Batang suamiku semakin jauh dan dalam menerokai farajku dan mulut pukiku cuba mengulum batang suamiku yang besar dan keras itu. Dinding vaginaku yang digesel oleh kasarnya kulit batang Abang N membuatkan aku merasa geli dan ngilu. Memang batang butuh yang suamiku miliki jauh lebih besar dan tegang dari apa yang aku pernah bayangkan. Akhirnya pangkal kemaluan kami bertaup rapat, terasa farajku
dipenuhi seluruh batang suamiku. Senakkkk!!!

suamiku melakukan henjutan perlahan sehingga perlakuan sorong dan tarik menjadi semakin rancak. Pukiku dihentak dengan kuat. Aku merasakan kepala kote suamiku berdenyut dan mengembang mencecah lalu menujah g-spot cipapku. Aku kegelian yang amat sangat. Lubang pukiku berlendir dan lencun. Aku semput nafas dan syahwatku menguasai tubuhku. Setiap kali suamiku merodok butuhnya terasa terperosok farajku ke dalam, dan bila di tariknya pula bibir puki ku mengikut keluar semuanya. Dan ketika itu aku mendapat orgasmeku.

Aku cuba mengemut dan kesendatan lubang pukiku agak menyukarkan kerja-kerja mengemut namun suamiku mendesah dan mengerang dan menjerit kecil. Bab aku pula jangan cakaplah. Desah, renggek, raung, jerit dan tangisku, semua bercampur baur bila suamiku terus mempompa dan menujah butuhnya dalam pukiku begitu lama. Aku merasa bibir farajku melecet, koyak dan pedih. Yang penting sebagai seorang perempuan, aku punya nafsu, aku punya keinginan, persetubuhan bukan hak lelaki sahaja..Jadi apa salahnya aku menikmati peluang yang ada sekarang?
Sedar tak sedar 30 minit butuh suamiku berendam di dalam tasik farajku. Aku kagum dengan suamiku, aku mencapai multiple orgasm dan tubuhku mengejang sekejang-kejangnya beberapa kali .Tiba-tiba dia menjerit dan aku memegang lalu menarik buntut suamiku rapat ke cipapku. Tiba-tiba aku merasa ledakan air mani suamiku ke g-spot di lubang pussyku. Hangattt!!! Aku turut menjerit sambil mengucup keras mulut suamiku dengan nafasku yang besar dan kasar. suamiku terus menciumiku sambil membiarkan butuhnya terus berendam di dalam farajku. sesudah itu aku pun terbaring kepuasan dan tampa kusedari aku terlena kerana kepenatan.(ceritalucahku.********.com)
Walaupun pada mulanya aku tak berapa suka dengan suamiku tapi kini aku amat menyayanginya dan a ku seakan menjadi kemaruk. Aku mahu butuh suamiku senantiasa berada dalam pukiku. Walaupun suamiku tak hansem dan badannya pon besar tapi aku sangat puas dan bahagia dan hingga kini suamiku masih segagah dulu biarpun kami tah mempunyai 4 orang anak. 




Cerita hot Menyetubuhi Ibu Tiri Penuh Nafsu Bagian Dari Ritual

Cerita hot Menyetubuhi Ibu Tiri Penuh Nafsu Bagian Dari Ritual

Cerita hot Menyetubuhi Ibu Tiri Penuh Nafsu Bagian Dari Ritual


 ini terjadi sepuluh tahun silam, ketika aku baru kelas satu SMU, semua itu terjadi karena usaha bisnis ibu tiriku sepeninggalan almarhum ayahku yang semakin menurun. Sementara aku anak satu-satunya belum bisa berbuat banyak untuk membantu beban ibu tiriku itu. Tibalah suatu ketika ibu tiriku mengajakku ke daerah Jawa Tengah dimana konon katanya disana ada sebuah kuburan yang memiliki kekuatan, dan apabila diyakini akan mengabulkan segala keinginan kita dengan syarat bersedia melaksanakan semedi serta segala persyaratan lainnya. Tibalah aku dan ibu tiriku di daerah tersebut, terbayang rasa ngeri seperti yang biasa kulihat di tayangan-tayangan televisi dan film-film horror. Namun ibu tiri ku memberi tahuku agar bersikap tenang, dan selalu ingat tujuan kami kesana, memang untuk merubah nasib. Sesampainya disana kami disambut oleh seorang laki-laki yang bertubuh agak tinggi besar, yang dikenal sebagai penunggu gunung tersebut. “Tentu orang sakti nih”pikirku dalam hati. Aku dan ibu tiriku diarahkan menuju sebuah rumah kecil menyerupai gubuk ditengah hutan, saat itu hari sudah senja, sehingga suasana mulai sepi dan hanya ada pelita kecil untuk penerangan di rumah itu. Kami pun istirahat di gubuk itu sambil menunggu Mang Karsim si penunggu kuburan yang memandu kami tadi. Tak seberapa lama Mang Karsim pun datang, lalu dia menjelaskan syarat yang harus kami penuhi, memang dari pengalaman yang sudah-sudah banyak yang sukses sepulang semedi di sini asalkan bersedia memenuhi segala persyaratan yang dikehendaki oleh kekuatan gaib disitu dengan sepenuh hati. Tampak ibu tiri ku berbincang-bincang dengan Mang Karsim dalam bahasa daerah, intinya kami harus berada di gubuk itu selama lima hari sambil melaksanakan semedi di kuburan yang ada di puncak gunung itu. Menjelang jam dua belas aku dan ibu tiriku bersiap-siap menuju ke kuburan keramat itu dengan membawa sesajen dan sebuah tikar, aku sedikit heran saat itu ibuku mengenakan kain batik putih garis-garis hitam dan baju kebaya, seperti mau ke undangan saja pikirku dalam hati. Kamipun berangkat menyusuri kegelapan dengan diterangi sebuah lentera kecil. Sesampainya di kuburan,

 Mang Karsim langsung memimpin ritual khusus di atas kuburan keramat itu. Setelah berlangsung sekitar empat puluh lima menit, Mang Karsim menggelar tikar yang dibawanya, lalu mendekat ke arah kami sambil mengatakan bahwa syarat terakhir sudah bisa dilaksanakan, yaitu aku harus menyetubuhi ibu tiriku diatas tikar itu. Ya ampun kenapa harus seperti itu sih, mana mungkin bisa begitu, pikirku dalam hati. Aku saling menatap dengan ibu tiriku. “Ya sudahlah….kalau memang itu syaratnya..!” kata ibu tiri ku dengan nada pasrah. Mendadak tatapanku jadi kabur sesaat, dan agak limbung rasanya. Kulihat ibu tiriku seperti bukan sosok yang biasanya, aku tidak mengerti kenapa pikiranku jadi berubah seperti itu, saat itu ibu tiriku seperti sosok perempuan yang menggairahkan birahiku. Dalam keadaan seperti setengah sadar ibu tiriku, membisikkan sesuatu padaku. “Kamu nggak usah takut, ikuti saja yang ibu lakukan” ungkapnya dengan nada pelan sambil membaringkan tubuhku di atas tikar itu. Lalu dia lucuti semua celana dan bajuku, aku diam seperti terkesima, saat ibu tiriku mulai mengusap-usap kontolku, aku mulai merasakan rangsangannya, perlahan-lahan kontolku mulai dikocoknya, akhirnya kontolku ngaceng juga di tangan ibu tiriku. diapun hanya tersenyum melihat kontolku yang dalam sekejap sudah tegang dan keras. Sungguh tidak pernah kubayangkan sebelumnya, aku diperlakukan seperti itu oleh ibu tiri ku. “Punyamu lumayan gede juga ya….”sambil terus menggenggam batang kontolku sambil sesekali mengocoknya. Gila ternyata nikmat sekali rasanya, tangan ibu tiriku, ingin sekali rasanya meremas-remas seluruh lekuk tubuhnya, tapi mana mungkin pikirku. Dia pun mulai memasukan seluruh batang kontolku ke dalam mulutnya, sampai mentok. 




“Aaakh…buuu…saya geli….!!” jawabku spontan. “Iya…ibu tahu…baru kali ini kamu merasakannya..!” ungkap ibu tiriku, yang terus menjilati batang kontolku berulang-ulang, sambil diselingi dengan kocokan, sampai-sampai aku kelojotan menahan rasa geli bercampur nikmat. Tanpa kusadari ternyata kejadian itu tak luput dari pemantauan Mang Karsim, kira-kira dari jarak du meter Mang Karsim memperhatikan gerakan ibu tiri ku yang tengah mengulum batang kontolku, lalu di memberi kode kepada ibu tiriku agar segera memulai persetubuhannya denganku. Ibu tiriku perlahan melepas kancing baju kebayanya dan melepas bra yang membungkus payudaranya. Woow bulat, mulus dan masih kencang, mungkin karena ibu tiriku cukup lama menjanda, sehingga payudaranya tidak pernah tersentuh tangan laki-laki makanya terlihat masih utuh dan montok sekali. Aku semakin bergairah, dan sangat terangsang ketika ibu tiriku mulai melonggarkan lilitan kain batik putih yang dipakainya, dan melilitkannya kembali secara asal-asalan di pinggangnya, anggap saja memberi keleluasaan agar dapat menyingkapkannya dengan mudah. Ternyata benar dugaanku, ibu tiri ku langsung terlentang dengan posisi kedua pahanya yang sudah mengangkang. “Ayo naik kesini…!”ungkapnya, sambil mengarahkan tangannya agar aku segera menuju ke tengah-tengah selangkangannya itu. “Gimana bu…saya nggak ngerti..?”ungkapku bingung. “Ya uda sini…ibu yang masukin anumu ke punya ibu..!” ungkapnya dengan manja. 

“Blepp…plepp..cluppp..” dalam sekejap saja batang kontolku terbenam seluruhnya ke dalam memek ibu tiriku yang masih sempit dan empuk itu. “Aaaakhh…..aaahh….ssshh…ooouh… ibuuu…!”aku mendesis merasakan nikmat dan hangatnya lobang memek ibu tiriku. “Nggak apa-apa kan…..?”ungkap ibu tiriku sambil mengusap-usap punggungku. “Ya uda jangan ragu-ragu….terus teken yang dalam..!”kata ibu tiriku mengajari aku. Akupun mulai menggenjot kontolku keluar masuk lobang memek ibu tiriku, lama-lama aku jadi terbiasa dan bisa menikmatinya. Luar biasa sekali nikmatnya pikirku. Saat itu tak terpikir lagi kalau yang sedang kusetubuhi itu adalah ibu tiriku, yang pernah juga ditiduri oleh ayahku. Sebelumnya tidak pernah terlintas dipikiranku untuk bersetubuh dengan ibu tiri ku, walaupun beberapa tahun silam sering kulihat ayahku saat lagi mencumbu ibu tiriku ini. Setelah kami tinggal di rumah berdua pun tidak pernah terlintas pikiran kotorku terhadap ibu tiriku, sekalipun dalam kesehariannya di rumah, ibu tiriku selalu berpakaian seksi, seperti mengenakan daster yang sangat pendek,. Bahkan tidak jarang ibu tiriku tidur bersamaku dengan dasternya yang tersingkap kemana-mana sehingga dari paha sampai pantatnya terlihat jelas tanpa sehelai benangpun menutupinya, namun hal tersebut tidak pernah mengganggu pikiranku, apalagi sampai membuatku ingin menyetubuhinya.

 Tapi kali ini aku benar-benar terangsang sekali, bahkan aku tengah menyetubuhinya dengan penuh nafsu. Mang Karim pun ikut terbelalak matanya sambil berkali-kali terlihat menelan ludahnya, saat ibu tiriku berganti posisi menungging sambil menyingkapkan kain batik yang menutupi bagian pantatnya, sehingga terlihat jelas dua bulatan pantatnya yang menonjol, padat, putih, mulus. Akupun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, segera kuelus-elus batang kontolku lalu kembali kuarahkan ke lobang memek ibu tiriku dari belakang. “Aaah…ssshhh…ooohh…ibuuu…nikma t sekaliii..buu..!” ungkapku sambil terus meremas-remas bulatan pantat ibu tiriku yang tengah menungging kearahku. Ibu tiri ku memaju mundurkan pantatnya sehingga terlihat kontolku seperti sedang diasah dalam memek ibu tiriku. Aku heran juga melihat Mang Karim yang kelihatan gelisah sambil mengelus-elus kontolnya sendiri, rupanya di terangsang melihat adeganku tadi. Dia pun mendekatkan posisinya ke sebelahku, nampaknya dia penasaran ingin melihat dari dekat adeganku dan mulusnya pantat ibu tiriku yang lagi ku remas-remas dan kugenjot dengan kontolku itu. Tiba-tiba saja Mang Karim pun menurunkan celana kolornya, lalu dia keluarkan kontolnya yang sudah tegang mengacung ke atas, sorot matanya terus tertuju ke pantat ibu tiriku yang lagi ku genjot itu. ”Saya nggak tahan juga Mas….!”katanya kepadaku, sambil mengocok kontolnya yang sudah ngaceng. Kulihat ibu tiriku yang lagi nungging menoleh kebelakang sambil tersenyum geli melihat tingkah Mang Karim yang ikut-ikutan terangsang oleh tubuh montoknya. Kukembalikan segera konsentrasiku pada tubuh ibu tiriku yang sedang kutunggangi dengan penuh nafsu itu. Genjotanku semakin kupercepat, aku tidak tahan seakan batang kontolku lagi diremas-remas oleh dinding memek ibu tiriku, seperti dipijit-pijit, rasa geli bercampur nikmat, apalagi saat ibu tiriku memainkan lobang memeknya menjepit batang kontolku saat kubenamkan seluruhnya ke dalam. “Aaaah….oouuw…iii..buuu…saa..y a…nggak tahaan…buuu…!”aku mengerang dengan penuh nikmat. “Iyaaa….ayo 




terusin..sayang…sampai keluar ya…!” ungkap ibu tiri ku terbata-bata karena hentakanku pada pantatnya. Aku mulai merasakan dorongan yang kuat yang hendak meletus, air maniku seakan sudah di ujung kontolku, yang akan segera memuntahkannya ke dalam lobang memek ibu tiriku. Tiba-tiba tubuhku terasa gemetar, darahku berdesir dengan cepat diseluruh tubuhku, seakan menahan puncak birahi yang luar biasa nikmatnya, seiring dorongan air maniku yang akan ku*kan keluar dari batang kontolku. “Aaaahh….ooouuhh…ibuuu…crott…c rottt..crottt… oouuuww..!!” akhirnya air maniku muncrat, menyemprot keseluruh dinding lobang memek ibu tiriku, sungguh betapa nikmatnya menyetubuhi ibu tiriku. Tidak pernah terbayang olehku sebelumnya, kalau tubuh ibu tiriku yang sehari-hari didepan mataku, ternyata bisa memberikan kenikmatan yang luar biasa terhadapku. Aku terkulai lemas diatas tikar, sementara ibu tiri ku yang masih dalam posisi nungging, terlihat membersihkan sisa air maniku yang berceceran di atas memeknya dengan menggunakan kain batiknya, dia pun tersenyum puas atas kebolehanku tadi, sambil mengusap-usapkan kain batik tadi ke batang kontolku yang mulai kembali ke ukuran semula. Tinggallah Mang Karsim saat itu yang terus mengocok kontolnya sendiri. Melihat hal itu ibu tiriku segera bangun dan duduk di atas tikar, lalu diraihnya batang ****** Mang Karsim yang sedang tegang-tegangnya itu. Aku jadi tambah bingung, kok ibu tiriku mau megangin ****** Mang Karsim, mungkin sekalian kotor barangkali, atau sebagai bonus saja buat dia yang sudah memandu kami, pikirku dalam hati. “Aduh bu….enak tenan…bu..!” Mang Karsim berguman sendiri. Karena sudah tidak tahan sejak tadi melihat kemolekan dan kemulusan tubuh ibu tiriku, Mang Karsim bagaikan ketiban durian runtuh, seumur-umur baginya tidak pernah melihat tubuh semulus itu. Dia pun mengerang sekuatnya berusaha menahan air maninya agar tidak segera keluar, dia ingin lebih lama kontolnya dikocok oleh ibu tiri ku, maklumlah bagi dia kesempatan seperti ini belum tentu dia dapatkan sepuluh tahun sekali. Namun apa daya air mani Mang Karsim tak bisa dibendung lagi, ibu tiriku memang sangat paham sekali bagaimana cara memuncratkannya dengan cepat, melalui sedikit sentuhan-sentuhan rahasia di bagian tertentu pada batang ****** 

Mang Karsim, akhirnya air mani Mang Karsim tumpah ruah di kain batik putih yang dipakai ibu tiriku, bahkan saking bernafsunya air mani Mang Karsim sebagian menyemprot di payudara ibu tiriku, air mani Mang Karsim terlihat kental sekali, mungkin karena sudah sepuluh tahun dia menduda. Tidak lama kami pun bergegas kembali ke gubuk untuk istirahat, sementara Mang Karim malam itu dengan setia menunggui kami sampai tertidur di emper gubuk. Sementara aku berada satu kamar bersama ibu tiriku dalam gubuk itu, tentu atas permintaan dari ibu tiri ku sendiri agar aku menemaninya. Malam ibu tiriku bertanya padaku bagaimana perasaanku, sambil menghiburku agar tidak kaget atas kejadian di kuburan keramat itu. “Saya takut bu….sa..ya…bi…ngung…” sambil terbata-bata. “Iya ibu tahu…ibu ngerti…tapi kamu hebat…” ibu tiriku memotong pembicaraanku. “Maksud ibu hebat gimana…?” ungkapku dengan penuh rasa heran. “Itu lho…. ibu baru lihat…ternyata punyamu besar sekali..” ungkap ibu tiriku sambil berbisik kepadaku. Aku diam saja mendengar pernyataan itu. “Ibu jadi tertarik aja melihatnya tadi….sampe sekarang terbayang terus…!”kenangnya. “Iya bu, saya juga baru tadi aja melihat tubuh ibu dengan jelas…!” ungkapku dengan malu-malu. “Kamu suka nggak…seperti tadi dengan ibu…?” ungkap ibu tiriku sambil berbaring menghadap ke arahku. “Hhmm…iya..iya..bu..saya suka.., enak bu..saya baru merasakan begitu.!” “Kalau kamu mau, ibu tidak keberatan kamu setubuhi ibu seperti tadi kapan aja kamu mau, asal jangan ada orang lain yang tahu..ya…!” tegasnya, sambil kembali meraih kontolku yang sudah mengecil, lalu di usap-usapnya dengan lembut. “Kamu suka nggak ibu ginikan…?” ungkapnya dengan nada yang genit, sambil sesekali batang kontolku dikocoknya. “I..ya..bu…ssshhh.. ge..li..buu..!” ungkapku terbata-bata. Ibu tiri ku pun semakin jadi memainkan kontolku, dikulumnya dalam-dalam, lalu dijilat-jilat ujungnya dengan gemas. “Aaahh…oouww…ibuuu…” aku mulai merintih menahan geli bercampur nikmat. Dalam sekejap kontolku sudah mengacung tegang keatas, melihat hal itu ibu tiriku semakin bergairah melumat habis batang kontolku mulai dari bijinya sampai ke ujung, terus berulang-ulang. “Kamu juga boleh pegang-pegang memek ibu…!” ungkapnya sambil menarik tanganku dan menempelkannya di atas lobang memeknya persis. Rupanya ibu tiriku sudah sejak tadi terangsang sewaktu melihat kontolku mulai ngaceng, terlihat dari memeknya sudah terasa basah. Tanganku yang satu lagi meraba payudara ibu tiriku yang begitu menggemaskan. Kain batik putih yang dipakainya pun sudah terlihat acak-acakan karena rabaan dan remasanku yang mulai berani ke seluruh bagian tubuhnya yang sangat menggairahkan itu. “Ayo masukin…..ibu udah nggak tahan nih…!” ungkapnya dengan nakal.

 Tanpa pikir panjang lagi langsung kubenamkan seluruh batang kontolku ke lobang memek ibu tiriku itu. “Aaaah….oohhh…oooh…!!” aku mulai merancu tidak karuan saking luar biasa nikmatnya. Aku langsung menggenjot batang kontolku keluar masuk di dalam lobang memek ibu tiri ku itu. Ibu tiriku terlihat begitu seksi sekali dalam keadaan setengah bugil seperti itu. Kain batiknya melorot ketarik oleh genjotanku. Tak lama kubalikan tubuh ibu tiriku agar posisinya membelakangiku. Woow pantatnya yang montok dan gempal terlihat menungging persis di depan kontolku yang sudah sangat tegang, langsung saja kusodokkan ke lubang syurga ibu tiriku. “Aaw…aaw….ouww…nikmat sekaliii…!!” ibu tiriku merintih sambil menahan hentakan batang kontolku yang makin dalam. Tiba-tiba pantat ibu tiriku mulai terlihat gemetar seakan sudah mendekati orgasme. “Aaaaw….ibu mau keluaaar….creekk crerkk creek” air mani ibu tiriku muncrat sewaktu kontolku menusuk-nusuk memeknya yang empuk dan padat itu. Aku terus menggenjotnya, gerakanku semakin cepat, batang kontolku pun terlihat semakin gencar menghunjam lobang memek ibu tiriku. Ibu tiri ku memang pandai, dia putar-putar pantatnya bergoyang berlawanan dengan genjotanku, sampai akhirnya aku merasa seperti di pilin-pilin nggak karuan. ….crottt..crottt…c rottt.. uuhh..!!” air maniku tiba-tiba saja muncrat tak tertahankan dalam lobang memek ibu tiriku. Gila aku benar-benar nggak kuat lagi menahannya, memang luar biasa permainan ibu tiriku, tidak kuduga sampai seperti ini kenikmatan yang tersimpan dalam tubuh montoknya, ungkapku dalam hati. Puas sekali rasanya, akupun kembali terkulai lemas disebelah tubuh ibu tiriku, begitu gencarnya permainan tadi, tanpa kusadari kain batik panjang ibu tiriku telah melilit ketat dari kaki sampai kepinggangku, mengikatku jadi satu dengan tubuh ibu tiriku, kami pun terbalut rapat sehingga sulit bergerak. Karena dinginnya udara malam di tengah hutan saat itu, akhirnya aku dan ibu tiri ku membiarkan tubuh kami dalam keadaan berpelukan seperti itu sampai pagi harinya. END




Sports

Business

Life & style

Games

Fashion

Technology