Wednesday, August 28, 2019

Kenikmatan Istri Selingkuh Didepanku

Kenikmatan Istri Selingkuh Didepanku

Kenikmatan Istri Selingkuh Didepanku


Aku telah menikah lebih dari 8 tahun, istriku Erni adalah seorang wanita yang cantik dan menggairahkan. Semua yang dapat kugambarkan tentang sosoknya hanyalah, aku tak mungkin bisa mendapatkan seorang pasangan hidup sebaik dia. Akhir-akhir ini kesibukanku di kantor membuat kehidupan rumah tanggaku sedikit tergoncang, pagi-pagi sekali sudah berangkat dan pulang sudah larut malam.

Erni tak bekerja, dia hanya mengurus rumah, jadi bisa dikatakan dia sendirian saja di rumah tanpa teman, tanpa pembantu selama kutinggal kerja. Tapi terkadang dia pergi keluar dengan teman-temannya, tapi dia selalu menghubungiku lewat telepon sebelum pergi.

Hari Rabu, pekerjaanku di kantor selesai lebih awal, dan ingin pulang dan mengajak Erni keluar untuk menebus semua waktuku untuknya. Aku meninggalkan kantor sebelum jam makan siang dan memberitahukan pada sekretarisku bahwa aku tidak akan kembali ke kantor lagi hari ini. Kupacu mobilku secepatnya agar segera sampai di rumah dan mungkin aku akan mendapatkan kenikmatan siang hari sebelum kami pergi keluar.

Saat hampir tiba di rumahku, kulihat ada sebuah mobil yang diparkir di depan. Aku pikir itu mungkin milik temannya. Aku lalu keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah.

Kubuka pintu depan, sengaja aku tak mengeluarkan suara untuk mengejutkannya. Di ruang tengah tak kujumpai siapa pun, lalu aku melangkah ke dapur, tapi tetap tak ada seorang pun kutemui. Mungkin mereka ada di kamar tidur, perempuan bisanya berada di sana untuk mencoba beberapa pakaian barunya.

Semakin mendekat ke pintu kudengar suara, kucoba mencermati pendengaranku dan mencoba untuk mendengarkannya dengan seksama. Ini adalah hari dimana aku berharap seharusnya berada di kantor saja.

Begitu kuintip dari pinggir pintu yang sedikit terbuka, kusaksikan istriku berada dalam pelukan lelaki lain, istriku dalam posisi merangkak dengan batang penis lelaki itu terkubur dalam lubang anusnya..

"Oh bangsat, lebih keras lagi dong!" perintah istriku.
"Kamu menyukainya kan, jalang, kamu suka penisku dalam anusmu, iya kan?"
"Oh ya Bud, kamu tahu itu!"

Aku berdiri mematung di sana tanpa mampu bereaksi, terlalu shock untuk mengatakan atau melakukan sesuatu dan hanya menyaksikan pemandangan mengejutkan ini. Istriku, yang aku bersedia mati untuknya, sedang melakukan anal seks dengan lelaki ini, sebuah hal yang kuinginkan tetapi tak pernah mau dia lakukan bersamaku.

Dan sekarang dia melakukannya dengan lelaki ini! Aku terpaku memandangnya mengayunkan bongkahan pantatnya yang indah, kepalanya menggantung ke bawah dan sekujur tubuhnya bermandikan keringat mengisyaratkan pada lelaki ini agar memberinya lebih lagi.

Air mata mengaburkan pandanganku dan kedua kakiku seakan direkat pada lantai membuatku tak bisa beranjak dari sana dan menyaksikan keseluruhan peristiwa ini. 


Serasa hancur hatiku saat lelaki itu menjambak rambutnya dan menarik kepalanya ke belakang dan memanggil istriku dengan sebutan 'jalang', dan memaksakan batang penisnya masuk ke dalam lubang anus istriku yang terlihat mengerut.

Istriku memohon agar lebih dalam lagi dan pinggulnya menghantam berlawanan dengan pinggang lelaki ini. Dengan tangan kanannya, lelaki itu menjangkau ke bawah tubuh istriku dan menggenggam payudaranya yang sekal, menjepit ujung puting susunya yang kecoklatan dengan keras sekali, jeritan yang keluar dari bibir istriku menandakan bahwa dia merasakan kesakitan.

Kami tidak pernah bercinta dengan cara begitu, kami selalu melakukannya dengan penuh cinta, aku tak pernah ingin menyakitinya dan aku tak mengerti bagaimana dia bisa menyukai saat diperlakukan kasar seperti ini.

"Ya Budi, puaskan aku, beri aku apa yang tak dapat diberikan suamiku, kamu tahu betapa senangnya aku saat kamu melakukannya sayang!"

Lelaki ini semakin menarik rambutnya dengan keras dan juga menarik payudaranya ke samping hingga kupikir puting susunya akan terkoyak karenanya, tapi dari bibirnya malah keluar jerit an memohon lagi. Aku harap aku dapat menikmati hal ini dan dapat bergabung dengan mereka, tapi aku tak bisa.

Budi, itu nama lelaki ini yang kudengar disebutkan istriku, mengatakan padanya bahwa dia akan meraih orgasmenya, dan dia menarik keluar batang penisnya dari lubang anus istriku.

Istriku memutar tubuhnya dengan cepat dan menaruh batang penisnya yang masih berlumuran cairan dari lubang anusnya sendiri itu ke dalam mulutnya, mulut yang sama yang aku suka menciumnya selama 8 tahun terakhir ini, 10 tahun jika kuhitung sejak kami pertama berkencan sewaktu kuliah dulu.

Hampir saja aku muntah begitu dia menelan penis kotornya itu ke dalam mulutnya dan menghisap spermanya begitu lelaki ini menyemburkan spermanya dengan hebat hingga tumpah sampai ke dagunya.

"Benar begitu penghisap penisku, hisap terus jalang, telan spermaku pelacurku."

Ingin rasanya kubunuh lelaki itu, bagaimana mungkin dia bisa memanggil wanita secantik ini dengan sebutan kotor begitu. Bagaimana bisa istriku membiarkannya memanggilnya dengan sebutan itu.

Seperti seorang bodoh saja saat aku melihat dan mendengarkan aksi mereka saat istriku menyelesaikan hisapannya pada batang penis lelaki ini.

Dengan kasar dia menarik wajah istriku mendekat padanya untuk mencium bibirnya yang penuh. Memasukkan lidahnya ke dalam mulutnya saat istriku dengan senang menghisapnya. Tangan lelaki itu berada pada bongkahan pantat istriku, menekan tubuhnya agar merapat saat mereka berciuman layaknya sepasang remaja yang sedang dimabuk cinta.

Akhirnya aku baru bisa bergerak, dan aku berbalik lalu melangkah ke ruang keluarga kami, duduk di atas sofa sambil memegangi kepalaku, kedua sikuku bertumpu pada paha. Air mata meleleh membasahi wajahku mengingat segala peristiwa mengejutkan yang baru saja kusaksikan. Memikirkan tentang bagaimana dan apa yang membuat Erni melakukan perbuatan terkutuk ini padaku.

Aku selalu memperlakukannya dengan penuh cinta dan kasih sayang, kami mempunyai kehidupan seks yang indah, setidaknya itu menurutku. Aku selalu melihatnya mendapatkan orgasme setiap kali kami bercinta. Dia tak pernah menuntut padaku bahwa dia menginginkan lagi dan aku pasti akan memenuhinya. Apa yang membuatnya melakukan ini.

Aku pikir aku akan melihat mereka keluar dari dalam kamar sebentar lagi, tapi aku salah. Aku tak ingin melihat apa yang mereka lakukan, tapi ada sesuatu dari dalam diriku yang mendorongku untuk kembali ke kamar itu.  PREDIKSI TOGEL JITU  SEMUA PASARAN

Saat aku kembali mengintip dari balik pintu, kedua kaki istriku berada di bahu lelaki ini dan dia sekarang sedang menyetubuhi vaginanya, lubang yang sama dimana kudapatkan kenikmatan selama 10 tahun. Tak dapat kupercaya pendengaranku akan kata-kata hina yang keluar dari mulut manis istriku.

"Oh ya, puaskan aku dengan penismu, isi mulutku lagi dengan spermamu. Lebih keras Budi, berikan yang aku mau, lebih keras lagi bangsat!!"

Belum pernah kudengar dia berkata seperti ini sebelumnya.
"Ya jalang, milik siapa vagina lezat ini?" "Oh milikmu Budi, semuanya milikmu sayang."

Setiap kata yang terucap seakan sebilah belati yang menghunjam ke hatiku, merobeknya menjadi berkeping-keping seiring pinggul istriku bergoyang mengiringi hentakan lelaki ini dengan gairah yang belum pernah kulihat darinya.

Sebuah pemikiran melintas dalam benakku, aku senang, senang karena sampai dengan saat ini kami belum mempunyai seorang anak yang akan menemukan bahwa ibunya adalah seorang pelacur!

"Siapa yang dapat memuaskanmu, siapa yang mampu memenuhi keinginanmu?"
"Kamu Budi, hanya kamu yang bisa memberiku!"

Apa yang harus kulakukan, pergi, tetap di sini, melabrak mereka, atau hanya menghajar lelaki ini? Tak kulakukan apa pun, selain hanya melihat.

Mungkin jika aku lebih dari seorang pria, atau setidaknya lebih dari seorang pria yang tega, aku akan melakukan sesuatu daripada hanya berdiri saja di sini. Seharusnya kulabrak mereka, menghajar mereka berdua, atau apa pun, tapi aku hanya menyaksikan perbuatan mereka dengan hati yang hancur berkeping-keping.

Nafsu istriku b egitu besar dan lelaki itu memuaskannya, mereka bersetubuh seperti sepasang binatang di atas ranjang cinta kami. Bed covernya sudah sangat kusut seperti kedua pakaian mereka yang tercampak di lantai dalam pergulatan birahi mereka berdua.
Kusaksikan batang penisnya yang keras ditarik hampir keluar seluruhnya dan dilesakkannya kembali dengan hentakan yang mampu membuat pinggul istriku terangkat dengan kedua pahanya yang terpentang lebar untuk menerima seluruh batang keras milik lelaki itu ke dalam vaginanya.

"Puaskan aku sayang, berikan penismu padaku. Jangan coba berhenti, jangan pernah berhenti!"




Kembali mereka berciuman dengan begitu bernafsu. Pinggul mereka saling menghantam berulang kali. Mereka tak menyadari kehadiranku di belakang mereka yang sebenarnya bahkan hanya dengan menolehkan kepalanya saja mereka akan dapat melihatku yang sedang berdiri mengintip dari balik pintu.

Tapi mereka sedang sibuk dengan kegiatannya yang lebih penting sekarang, pendakian untuk sebuah orgasme lagi.

Sudah cukup apa yang kusaksikan, lebih dari apa yang ingin kulihat. Aku bebalik dan keluar dari rumah. Kukendarai mobil di bawah sinar mentari yang cerah sampai mataku terbakar, dari sinar mentari dan dari air mata. Kejadian yang baru saja kusaksikan berputar dalam benakku.

Aku berhenti pada sebuah kafe dan memesan segelas minuman yang paling keras. Kutatap jam di dinding hingga jarum jam menunjukkan pukul 7 malam, kembali ke mobilku dan pulang ke rumah kami, jika masih bisa disebut rumah kami sekarang.

Baru saja aku masuk ke dalam, aku langsung bertemu dengan Erni, dia hendak mencium bibirku, tapi kulengoskan mukaku.

"Ada yang salah, sayang?" tanyanya.
"Nggak, hanya capai saja!"

Kami melangkah ke meja makan dan saling berbincang sebentar, aku lebih pendiam daripada biasanya, dan dia berlagak seolah tak ada apa pun yang terjadi hari ini.

Kuselesaikan makan malamku dan beranjak untuk mandi, berharap aku mampu mencuci ingatan mengerikan tentang istriku yang berselingkuh dengan lelaki lain dari benakku, tapi itu tak terjadi.

Aku naik ke pembaringan, tak dapat tidur dengan nyenyak karena ingatan akan istriku yang bertingkah seperti seorang pelacur yang haus akan batang penis sedang memuaskan lelaki bangsat yang bernama Budi.


Memberinya apa yang seharusnya hanya untukku. Rasanya jarum jam tak akan pernah beranjak ke pukul 6 pagi agar aku dapat pergi dari sini dan merenung.

Hari ini seakan berlalu dengan sangat lambat, akhirnya jam 11 siang tiba. Kukendarai mobilku dan kembali ke rumah. Kembali kulihat mobil Budi terparkir di depan rumah. Kemarahanku sekarang sudah melampaui batasnya. Dengan tergesa aku mesuk ke dalam rumah dan menemukan mereka berdua sedang bergulat di atas ranjang kami lagi.

Dengan marah kuteriakkan padanya agar menjauh dari istriku dan mengusirnya keluar dari rumahku. Budi hanya tertawa dan dengan batang penis yang masih berlumuran dengan cairan istriku, dia mengenakan pakaiannya, sedangkan Erni berusaha untuk menjelaskan semuanya.

Tak ada satu pun kata-kata yang ingin kudengar dari mulutnya. Setelah Budi pergi, kemudian Erni menemuiku di meja makan. PREDIKSI TOGEL JITU  SEMUA PASARAN

"Erni, kenapa kamu lakukan semua ini? Apa yang terjadi?"
"Penyebabnya kamu! Kamu nggak pernah ada, kamu nggak pernah memperhatikanku, mengajakku keluar. Yang kamu lakukan hanya kerja, kerja, kerja! Persetan dengan semua itu. Aku menginginkan lebih dari itu dan Budi memberinya."

"Aku dapat memberimu lebih Erni, Aku akan memaafkanmu jika kamu menghentikan semua kegilaan ini. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu!"

Dia memandang tajam ke arahku.

"Kamu boleh berkata sesukamu, aku tidak peduli. Kenyataannya kamu membuatku muak, kamu bukan seorang lelaki. Seorang lelaki akan membunuh pria yang berselingkuh dengan istrinya, tetapi kamu bahkan tak melakukan apa-apa. Kamu pecundang!"

"Tolong jangan lakukan ini Erni, kamu tahu betapa aku mencintaimu."

"Persetan dengan kamu!" dia meneriakiku, lalu menelepon Budi.
"Budi, jemput aku, sekarang juga!" dan membanting teleponnya.

Dia masuk ke dalam kamar dan tak lama kemudian keluar dengan membawa koper, lalu pergi untuk menunggu jemputan Budi. Lelaki bangsat ini datang tak lama berselang.


Malapetaka Di Hutan

Malapetaka Di Hutan

Malapetaka Di Hutan


Tangan Johan memegang pinggang Hanifah dan mulai menarik maju mundur badan wanita cantik itu, sehingga pompaan penisnya dalam memek Hanifah semakin keras dan cepat. Mendapat perlakuan demikian, wanita alim itu hanya bisa mengerang-erang keras, tangannya kembali meremas-remas kasur.

Desa itu desa terpencil, yang berada di tepi sebuah hutan yang besar dan gelap. Karena keterpencilannya, maka jarang sekali ada orang yang masuk ke desa itu. Setelah lama tidak pernah ada pendatang, pada suatu hari datanglah sepasang suami istri muda. Sang suami, Farid, adalah seorang guru SD yang dengan sukarela mau mengajar di desa terpencil itu. Sementara sang istri, Hanifah, ikut sebagai pendamping, dan membantu mengajar TPA di masjid kecil di tengah desa.

Segera mereka berdua menjadi terkenal. Farid, berusia 28 tahun, yang guru dan sangat pandai dalam hal agama sering diminta menjadi pembicara pengajian sampai ke desa-desa tetangga yang lumayan jauh, selain juga menjadi guru di SD-SD tetangga yang kekurangan guru. Hanifah, seorang ibu muda cantik yang baru berusia 22 tahun, sangatlah populer di kalangan anak-anak dan ibu-ibu. Kelembutannya dalam berbicara, kepandaiannya dalam hal agama, dan kesabarannya dalam menghadapi anak-anak membuatnya menjadi idola di desa itu.

Hanifah adalah seorang wanita yang taat beragama. Wajahnya yang putih dan luar biasa cantik sungguh mengundang birahi banyak pria, jikalau ia tidak menjaganya. Karena itu, jilbab lebar selalu ia pakai. Tubuhnya yang bahenol dan sangat montok juga ia tutupi dengan jubah longgar. Walaupun begitu, tetap saja wajah yang cantik putih dan tubuh bahenolnya tidak bisa 100% disembunyikan, dan masih membayang pada jubah longgarnya.

Banyak pria yang merasa terangsang saat melihat Hanifah melintas. Apalagi jika angin menerpa jubah longgarnya, membuat tubuhnya semakin terlihat jelas membayang dari luar jubahnya yang tertiup angin. Namun mereka hanya bisa memendamnya dalam hati, atau paling jauh onani sambil mambayangkan bersetubuh dengannya, wanita alim yang bahenol.  Kepopulerannya membuat para pria itu merasa takut mengganggunya.

Namun ternyata ada saja orang yang memang benar-benar menginginkannya. Mereka adalah Arman dan rekan-rekannya, para pemburu yang suka keluar masuk hutan. Tabiat mereka yang kasar dan berangasan membuat mereka tidak peduli. Mereka sungguh ingin merasakan tubuh seorang ibu muda cantik bahenol yang berjilbab, yang menyembunyikan tubuh indahnya di dalam jubah longgar. Justru jubah longgar dan jilbab lebar itu membuat mereka semakin penasaran dan terangsang.

Pada suatu hari, Farid, suami Hanifah, dipanggil ke kota untuk mengikuti pembekalan guru tingkat lanjut. Tiga hari ia harus pergi, dan karena ada masjid yang harus dikelola, Hanifah tidak ikut. Kesempatan itu segera digunakan oleh Arman dan rekan-rekannya untuk menuntaskan nafsunya pada ibu muda alim yang molek itu.

Saat malam tiba, setelah sholat Isya’, Hanifah pulang menyusuri jalanan desa yang sangat gelap, melintasi pinggiran hutan. Tiba-tiba ia disergap dan dipukul pada bagian tengkuk, yang membuat ibu muda berjilbab cantik itu pingsan. Ternyata sang penyerang adalah Arman. Ibu muda itu dibawa ke tengah hutan. Diperjalanan, ia mulai tersadar, dan meronta-ronta. Segera Arman menjatuhkannya dan langsung mengancamnya.

“Diam kamu!! Mau kubunuh, hah?!!” katanya sambil mengacungkan senjata pembunuh babi ke arah Hanifah. Wanita itu kaget bukan kepalang. Matanya mulai berkaca-kaca karena ketakutan. Akhirnya, di bawah todongan senjata, dengan pasrah wanita berjilbab itu digiring masuk lebih jauh ke dalam hutan. Dia sengaja diajak berjalan berputar-putar supaya bingung kalau mencoba melarikan diri.

Rasanya sudah berjam-jam mereka masuk ke dalam hutan. Rasa takut, ditambah haus dan lapar membuat Hanifah makin tersiksa, apalagi di sepanjang perjalanan berkali-kali tangan usil para pemburu itu juga sibuk meraba dan mencubiti bagian-bagian tubuhnya yang masih tertutup jilbab dan jubah lebar. Jilbabnya disampirkan kepundaknya, sehingga membuat para pemburu itu leluasa meremas-remas buah dada gadis berjilbab itu yang luar biasa montok. Pantat Hanifah yang mulus dan sekal menjadi bagian yang paling favorit bagi tangan para pemburu itu. Diperlakukan demikian, Hanifah hanya bisa menahan tangis dan rasa ngerinya.

Mereka kemudian sampai di sebuah pondok kayu kecil tapi kokoh karena terbuat dari kayu-kayu gelondongan. Anehnya mereka tidak mambawa Hanifah masuk ke dalam pondok kayu itu, tapi hanya di luarnya. Wanita montok berjilbab itu berusaha meronta tapi menghadapi tiga pria yang jauh lebih kuat darinya, perlawanannya hanyalah usaha yang sia-sia.

“Nah, Ibu yang cantik, sekarang waktunya kamu harus menerima hukuman dari kami karena sudah membuat penunggu hutan ini resah.” ujar Arman sambil matanya menyapu ke sekujur tubuh Hanifah yang tertutup jilbab yang tersingkap dan jubah yang sudah terbuka dua buah kancing atasnya.

Hanifah bingung. “A-apa salah saya, pak?” tanyanya.

“Diam!! Tubuhmu yang montok itu sudah bikin penghuni hutan ini resah tahu!! Kamu harus mempersembahkan tubuhmu itu kepada mereka!!” bentak Arman lagi.

Rofi’ah semakin panik. Ia sadar, ia akan diperkosa. Ia terus berusaha berontak, namun dua orang rekan Arman yang semuanya bertubuh tinggi besar tidak bisa ia kalahkan. Segera ia menyerah kalah, sambil menangis tersedu-sedu.

“Hmm, hukumannya apa ya?” Arman bergumam tidak jelas seolah bertanya pada dirinya sendiri. “Ah iya, mbak Hanifah, hukuman buat Mbak yang pertama adalah menari buat kami. Tapi dengan catatan, sambil menari, Mbak harus buka jubah, kutang sama celana dalam Mbak. Jilbabnya biarin saja. Sampirkan aja di pundak.” lanjut laki-laki itu datar, nyaris tanpa emosi. Ia sudah pernah melakukan ini sebelumnya, saat memperkosa seorang gadis alim yang sedang KKN di desa sebelah. Memek mereka benar-benar seret dan legit.



Hanifah yang mendengarnya tersentak kaget, seketika tubuh wanita bahenol berjilbab itu gemetar. Dia terkesiap, tidak mengira akan dipaksa melakukan tarian telanjang. Tubuhnya gemetar karena shock, Hanifah hanya menggelengkan kepalanya sambil menahan tangis yang semakin kencang.

“Jangan!” pintanya dengan pasrah. “Kalian minta apa saja, silahkan. Tapi jangan seperti itu…”

“Hehehehe... ” Arman menyeringai. “Kalau mau lari juga tidak apa-apa, paling-paling Mbak hanya akan bertemu macan di sekitar sini. Lagipula tidak ada yang tahu tempat ini selain kami.”

Hanifah gemetar ketakutan, air matanya semakin deras mengaliri pipinya yang mulus. Wanita itu tahu dia tidak punya pilihan lain, dia memang tidak tahu jalan pulang, ditambah kemungkinan benar ucapan Arman tentang harimau yang masih berkeliaran. Wanita berjilbab itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat mencoba pasrah.

“Bagaimana, Non?” Arman bertanya datar.

Hanifah diam sesaat sebelum akhirnya mengangguk. Tawa ketiga pemburu itu langsung meledak penuh kemenangan.

“Horee... Asiik.! Hari ini kita bakal dapat tontonan bagus. Jarang lho ada wanita alim, berjilbab lebar secantik Mbak mau menari bugil buat kita,” kata Pak Man yang dari tadi diam saja dengan nada dibuat-buat.

Hanifah menunduk sambil menggigit bibirnya untuk menahan malu dan takutnya yang makin memuncak. Ia merasa bersalah terhadap Farid, suaminya, yang sedang ada di kota.

“Tunggu dulu, pakai musik dong.” kata Arman, dia lalu masuk ke pondokan dan keluar lagi membawa sebuah tape recorder kecil bertenaga batere. Ketika disetel, alunan musik dangdut mulai bergema di sekitar tempat itu.

“Nah, ayo dong, Non. Mulai goyangnya.” seru laki-laki itu di sela-sela suara musik yang lumayan keras.

Hanifah mencoba pasrah. Dia lantas mulai menggoyangkan tubuhnya dengan gerakan-gerakan erotis yang coba ia tiru dari joged para penyanyi dangdut di TV. Tangannya diangkat ke atas lalu pinggulnya digoyang-goyangkan, membuat seluruh tubuhnya berguncang. Seketika ketiga pemburu itu bersuit-suit melihat goyangan pinggul dan pantatnya. Apalagi saat gadis berjilbab itu mulai membuka kancing jubahnya satu per satu, mereka makin bersorak.

Saat ia merasa sangat malu dan sejenak berhenti, senjata berburu Arman langsung teracung padanya, membuatnya takut dan segera melanjutkan goyangannya. Ketiga pemburu itu terdiam saat jubah Hanifah meluncur turun ke tanah, memperlihatkan tubuh yang sangat montok, putih dan mulus tanpa cacat. Birahi mereka langsung memuncak.

“Buka kutangnya! Buka! Kami mau lihat pentilnya,” teriak mereka sambil terus memelototi tubuh Hanifah yang bergoyang erotis. Wanita alim yang bahenol itu lalu perlahan mulai melepas Bra yang menutupi payudaranya lalu melemparkannya ke tanah. Payudara Hanifah yang masih kencang sekarang tergantung telanjang, begitu putih dan mulus. Payudara itu berguncang seirama gerakannya.

Melihat bulatan daging yang begitu mulus itu, ketiga pemburu itu makin liar berteriak, meminta Hanifah untuk membuka celana. ”Celana! Sekarang celanamu... buka! Buka!”

Hanifah dengan sesenggukan mulai memelorotkan celana dalamnya dan melemparkannya ke tanah. Sekarang ibu muda berjilbab itu sudah telanjang bulat di hadapan ketiga pemburu yang memelototinya dengan penuh nafsu. Dia meneruskan tariannya dengan berbagai gaya yang diingatnya. Ketiga pemburu itu tampak paling suka saat Hanifah melakukan goyang ngebor ala Inul dan goyang patah-patah milik Anisa Bahar. Pantatnya yang montok dan mulus bergoyang-goyang secara erotis. Jilbab yang tersampir dipundaknya dan kaus kaki putih yang membungkus kaki sampai betisnya membuatnya semakin cantik.

Selama hampir satu jam Hanifah menghibur ketiga pemburu itu dengan tarian bugilnya. Tubuhnya sampai basah karena keringat, membuat kulitnya yang putih mulus terlihat berkilat-kilat. Acara itu baru selesai setelah Arman menyuruhnya berhenti.

“Hehehehe… Ternyata Mbak pintar juga narinya. Kami jadi terangsang lho.” kata laki-laki itu sambil tersenyum keji.

“Sudah cukup, Pak, saya sudah menuruti permintaan Bapak. Sekarang lepaskan saya.” pinta wanita alim yang bahenol itu dengan memelas sambil setengah mati berusaha menutupi payudara dan memeknya yang terbuka.

“Cukup?” Arman tertawa. “Hukumanmu belum lagi dimulai.”

Hanifah merasa mual mendengar ucapan itu. Kalau yang tadi belum apa-apa, ia ngeri membayangkan apa yang akan mereka minta berikutnya.

“Hukuman selanjutnya... sekarang Non berdiri sambil ngangkang, lalu angkat tangan Non ke belakang kepala!” Arman memerintah dengan jelas.

Hanifah tersedu sesaat, tapi wanita alim itu mulai membuka kakinya lebar-lebar, membuat bagian selangkangannya terkuak lebar sehingga memperlihatkan memeknya dengan jelas. Benda itu terlihat terawat dengan baik, ditumbuhi rambut-rambut halus dan rapi, Hanifah selalu merawat bagian genitalnya dengan sangat cermat demi menyenangkan suaminya. Selanjutnya tangannya diangkat ke atas dan jari-jarinya ditumpukan di belakang kepalanya, membuat payudaranya yang putih dan kenyal sedikit terangkat hingga terlihat makin membusung dan mencuat menggemaskan.

“Nah, sekarang... boleh nggak kami meraba tubuh Mbak?” tanya Arman.

Hanifah tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti permintaan itu. Wanita alim itu mengangguk sambil menangis.

“Sekarang kita mulai ya,” kata Arman.

Hanifah hanya mengangguk, dia merasakan sentuhan tangan laki-laki itu mulai bergerilya di wajah putih mulusnya.

“Uhh, wajahmu mulus sekali, Non.” Arman mencium pipi Hanifah.

Antara geli dan jijik, Hanifah memejamkan mata saat Arman mulai menelusuri bibirnya yang merah dan melumatnya dengan gerakan lembut. Laki-laki itu  terus berusaha mendesakkan bibirnya untuk mengulum bibir Hanifah, lidahnya mencoba menerobos masuk ke mulut wanita cantik itu, sementara tangannya bergerilya meraba-raba dan meremas payudara Hanifah yang putih mulus. Hanifah menggelinjang menerima perlakuan itu.

Sambil bibirnya terus mengulum bibir wanita alim itu, tangan Arman kini memilin-milin puting payudara Hanifah dengan gerakan kasar. Hanifah meringis kesakitan, tapi perlahan perlakuan laki-laki itu justru menimbulkan sensasi aneh dalam dirinya, tubuhnya menegang saat sensasi itu melandanya. Tanpa sadar wanita alim itu mulai mendesah. Suaminya tidak pernah memperlakukannya seperti ini.

“Ayo, kalian juga boleh ikut.” Arman memanggil kawan-kawannya.

Hanifah makin menderita mendengar ucapan itu. Tiga orang langsung mengerubutinya. Mereka meraba-raba ke sekujur tubuh montoknya. Pak Man yang berangasan meremas-remas payudara kirinya dengan kasar, sementara sebelah tangannya meraba dan meremas pantat Hanifah yang sekal.

“Uohh, pentilnya dahsyat. Pantatnya juga nih. Kayaknya enak kalo ditidurin,” kata Pak Man.

Sementara di sebelahnya, Johan tampak asyik berkutat dengan payudara Hanifah yang sebelah kanan. Dia menjilati dan menyentil puting payudara putih bersih wanita berjilbab itu dengan lidahnya.

“Ohh, baru tahu ya?” Arman tertawa di tengah usahanya menjilati payudara Hanifah. Wanita cantik itu hanya bisa merintih pasrah. Apalagi saat Arman mulai menggerayangi memeknya.

“Ohh, tempiknya bagus banget nih, Pak Man.” kata laki-laki itu sambil menggesek-gesekkan jarinya di bibir memek Hanifah. PREDIKSI TOGEL JITU  SEMUA PASARAN

Pak Man tidak menanggapinya karena kini dia sibuk menciumi dan menjilati payudara Hanifah bersama Johan. Tangan laki-laki tua itu juga membelai-belai perut Hanifah yang licin. Wanita alim itu semakin menggelinjang dan terus mendesah tertahan.

“Ohh...” Hanifah menjerit kecil saat Arman mencoba memasukkan jari-jarinya ke dalam memeknya. “Jangan, Pak...” dia merintih, tapi rintihan pasrah wanita alim itu ibarat musik perangsang bagi Arman dan kawan-kawannya. Laki-laki itu makin liar menggesekkan jarinya ke selangkangan Hanifah, bahkan dia juga meremas-remas gundukan memek ibu muda cantik itu. Hanifah makin merintih. Tubuhnya mengejang mendapat perlakuan itu.

“Hei, Ar, kayaknya Mbak ini sudah mulai terangsang nih. Tuh lihat, dia mulai merintih, keenakan kali ye?” ujar Johan diiringi tawa. Hanifah makin sakit hati dilecehkan seperti itu, tapi memang dia tidak bisa mungkir kalau dirinya mulai terangsang oleh perlakuan mereka.

“Jangan! Oohh…” wanita itu mulai meracau tidak karuan saat Arman mulai menjilati memeknya. Dia menjerit saat lidah laki-laki itu bermain di klitorisnya. Lidah Arman mencoba mendesak ke bagian dalam memek wanita berjilbab itu sambil sesekali jari-jarinya juga ikut mengocok memek itu. Sungguh Hanifah tidak mau diperlakukan seperti itu, karena bahkan suaminya sendiri tidak pernah memperlakukannya seperti itu.

“Ahkkhh.. Oohh.. jangan!!” rintih Hanifah sambil menggeliat. Semantara Pak Man dan Johan kali ini berdiri di belakangnya sambil mendekap tubuhnya dan meremas-remas kedua payudara Hanifah dengan gerakan liar. Sesekali puting payudara wanita berjilbab itu dipilin-pilin dengan ujung jari seperti orang sedang mencari gelombang radio. Hanifah mengejang, sebuah sensasi aneh secara dahsyat mengusir akal sehatnya. Dia mendesah-desah dengan gerakan liar, hal ini membuat kedua penjahat itu terlihat semakin bernafsu.

“Ayo terus, sebentar lagi dia nyampe.” Pak Man berteriak kegirangan seperti anak kecil sambil terus menerus meremas payudara Hanifah sementara Arman masih menelusupkan wajahnya ke selangkangan wanita alim itu. Lidahnya terus menyapu bibir memek Hanifah dan sesekali menyentil klitorisnya.

Hanifah menjerit kecil setiap kali lidah Arman menyentuh klitorisnya, semantara tangan laki-laki itu terus bermain meremasi pantatnya. Tubuh Hanifah sudah basah oleh keringat, sekuat tenaga dia menahan desakan sensasi liar di dalam tubuhnya yang makin lama makin kuat sampai membuat wajahnya merah padam. Tapi Hanifah akhirnya menyerah, tubuh montoknya mengejang dahsyat dan tanpa sadar dia mendorongkan memeknya sendiri ke wajah Arman dan menggerakkannya maju mundur dengan liar dan menyentak-nyentak. Hanifah sudah tidak dapat menahan diri lagi. Tubuhnya menggeliat dan menegang.

“OOHHHKKHHHH… AGGGHHHH…” wanita berjilbab lebar itu mengerang kuat-kuat seperti mengejan. Wajahnya merah padam penuh aura birahi, Dan seketika itu pula “Crt… crt… crt…” cairan memeknya muncrat keluar. Tanpa sadar Hanifah mengalami orgasme untuk pertama kali, dan kemudian tubuhnya melemas lalu terpuruk, Pak Man dan Johan menahan tubuh ibu muda cantil itu supaya tidak jatuh.

Arman tertawa senang melihat bagaimana Hanifah mengalami orgasme dengan begitu dahsyat. “Hehehehe…” dia tertawa seperti orang sinting. “Enak ya, mbak? Galak juga kalau lagi orgasme. Gak ngira kalo cewek berjilbab besar kayak mbak bisa orgasme liar kayak gitu.” sindirnya.

Hanifah hanya diam saja. Tubuhnya masih lemas setelah mengalami orgasme yang begitu hebat. Sekujur syaraf seksualnya seolah digetarkan dengan begitu kuat seperti dihimpit oleh truk raksasa, membuat dorongan seksualnya entah bagaimana menggelegak hebat hingga wanita alim itu serasa ingin dientot. Namun ia berusaha mengusir pikiran itu.

“Nah, sekarang hukuman ketiganya.” Arman memberi isyarat pada Pak Johan. Johan segera bergegas masuk ke dalam pondok dan keluar dengan mengusung sebuah kasur busa usang yang berbau lembab lalu menghamparkannya di tanah begitu saja.

“Nah, Mbak sekarang tiduran di situ ya.” Arman menunjuk ke arah kasur bau itu.

Hanifah hanya bisa mengangguk. Didorong oleh gejolak seksualnya yang menggelora, wanita berjilbab yang biasanya pemalu itu merebahkan dirinya terlentang di atas kasur. Jilbab lebarnya sudah basah penuh keringat. Hanifah refleks membuka kakinya lebar-lebar, sehingga posisinya sekarang telentang di atas kasur dengan kaki mengangkang lebar. Ketiga pemburu itu terkagum-kagum melihat gadis alim yang sangat cantik, yang biasanya menjaga dirinya dengan jilbab dan jubah panjang, sekarang sudah terlentang pasrah, siap untuk disetubuhi.

Arman segera membuka seluruh bajunya dan langsung menindih tubuh Hanifah sambil mengarahkan penisnya yang besar ke memek wanita berjilbab itu.

“Sudah siap kan, Mbak?” tanyanya lirih sambil mendorongkan penisnya ke dalam memek Hanifah.

“Aagghh…” wanita alim itu merintih keras ketika penis besar Arman mulai memasuki memeknya yang sudah basah. Arman dengan kasar mendorongnya sampai mentok. Karena besarnya diameter penis laki-laki itu, memek Hanifah sampai terlihat tertarik penuh dan menjadi berbentuk bulat melingkar ketat di penis Arman. Meskipun Hanifah sudah tidak perawan lagi, tapi baru kali ini memeknya dimasuki penis sebesar milik Arman. Wanita  berjilbab itu meringis menahan sakit sambil mengigit bibirnya.

Arman mulai memompa penisnya dengan cepat keluar masuk memek Hanifah. Hanifah yang belum pernah dipompa oleh penis sebesar milik Arman hanya bisa mengerang-erang dengan mata tertutup dan mulut sedikit terbuka. Wajahnya memperlihatkan kesakitan sekaligus birahi. Sungguh kini ia sudah tak mampu berpikir jernih, dan terhanyut oleh perkosaan yang ia alami.

“AAAHHH… UUUUHHHH… OOOHHHH...!!” teriaknya sambil menggelinjang-gelinjang dan kedua tangannya meremas-remas kasur yang cukup tebal itu.

Arman semakin cepat memompa memek Hanifah dengan penisnya. Hanifah yang keenakan, mengangkat kakinya ke atas, memberikan kesempatan kepada laki-laki itu untuk terus memompa memeknya dengan lebih cepat lagi dan lebih dalam lagi.

“Aaahh… enak… terus, paaakk… oohhhh… maafkan Hani, mas Fariiiidd… Oooohhh… ini enaaakkk sekaliiii… Aku tidak bisa menahannya!!!” Hanifah mulai meracau dengan mata tertutup dan tangannya semakin keras meremas-remas kasur.

Setelah dua puluh menit disetubuhi Arman, tiba-tiba badan montok ibu muda berjilbab yang sudah basah bersimbah peluh itu mengejang, kedua kakinya dirapatkan menjepit pinggang Arman, tangannya memeluk erat leher laki-laki itu.

“AAAARRGGHHH…” erang Hanifah saat mencapai orgasme yang kedua. Tubuhnya menggelinjang hebat tak terkendali. Sementara Arman yang mengetahuinya, segera mendekap tubuh wanita itu seerat-eratnya. Pinggulnya terus mendorong-dorong kemaluannya seakan ingin mendekam dan bersarang di memek wanita berjilbab lebar itu. Lalu diciuminya seluruh wajah Hanifah. dikulumnya dalam-dalam bibir wanita itu. Hanifah yang sudah kecapaian tak kuasa menolaknya. Dia membiarkan bibirnya dilumat oleh Arman dengan kasar.

Setelah bergetar-getar beberapa saat, badan Hanifah kemudian melemah, pelukan tangannya lepas dari leher Arman, kakinya yang tadinya memeluk pinggang Arman, jatuh ke kasur. Memek wanita alim itu yang tersumpal rapat oleh penis Arman terlihat mengeluarkan cairan sampai membasahi kasur.

Arman yang juga keenakan, menyusul tak lama kemudian. Si pemburu kasar itu menyemprotkan spermanya dengan sodokan yang keras ke dalam kemaluan Hanifah. Spermanya keluar sangat banyak hingga tak tertampung oleh memek ibu muda alim itu. Rembesannya juga keluar membasahi kasur.

Setalah menuntaskan segala kepuasannya, Arman berdiri meninggalkan tubuh Hanifah yang lemas telanjang di atas kasur. Tubuh putih itu sekarang berkilau basah oleh keringat, pada memeknya terlihat mengalir cairan sperma kental berwarna putih susu.

“Ohhhh...” Arman mendesah penuh kepuasan. Baru kali ini dia merasakan nikmatnya menyetubuhi seorang wanita berjilbab yang sangat cantik. Berbeda sekali dengan pelacur-pelacur yang pernah dipakainya selama ini. PREDIKSI TOGEL JITU  SEMUA PASARAN

Hanifah hanya bisa menangis meratapi nasibnya diperkosa oleh pemburu ugal-ugalan, tapi dalam hatinya dia tidak memungkiri kalau sebetulnya dia menikmati saat dirinya disetubuhi oleh Arman. Rasa yang sangat berbeda dari yang pernah didapatnya dari Farid, suaminya, bahkan Hanifah merasa Farid tidak ada apa-apanya dibandingkan Arman. Karena itu ketika Pak Man mendekatinya, wanita alim itu hanya diam saja, menunggu persetubuhannya yang kedua.

“Nah, sekarang giliranku.” kata Pak Man tenang sambil melepas pakaiannya satu-persatu, dia menyeringai kegirangan mirip anak kecil yang diberi permen. “Kita ganti gaya ya, mbak…” katanya kalem.

Mungkin karena saking terangsangnya, Hanifah menurut saja apa yang diminta oleh laki-laki itu. Pak Man membalikkan tubuhnya dengan pantat agak ditunggingkan, tangan dan lutut Hanifah bertumpu di kasur dengan gaya nungging. Pak Man membelai pantatnya yang mulus telanjang sambil sesekali menamparnya ringan dan mencubitinya.

“Busyeet... pantatnya gede banget, putih mulus lagi.” kata Pak Man kegirangan. Penisnya mulai memasuki memek Hanifah dari belakang.

“Oohh... gila!” laki-laki itu mengejang ketika penisnya amblas sepenuhnya di dalam memek sang ibu muda. “Tempiknya Mbak masih seret aja, nggak pernah dipake sama suaminya ya?” Pak Man berujar.

Hanifah hanya diam saja sambil memejamkan mata karena kesakitan sekaligus merasakan nikmat pada dinding memeknya sebelah dalam. Sekarang Pak Man mulai memaju-mundurkan pinggulnya sambil berpegangan pada pantat wanita alim berjilbab itu. Hanifah serasa melayang, sekonyong-konyong dia tidak merasa diperkosa karena turut menikmatinya. Pak Man lalu mencengkeram kepalanya yang masih terbungkus jilbab merah muda, dan ditariknya hingga wajah Hanifah terangkat memperlihatkan ekspresi kesakitan tapi penuh kenikmatan setiap kali laki-laki itu menggenjotkan penisnya.

“Ahhh… Aahhhh… Ooohhhhh… Ooohhhh…” Hanifah mengerang setiap kali Pak Man menyodokkan penisnya.

Di lain pihak, Arman dan Johan ikut memberi semangat setiap kali Pak Man menyodok memek gadis berjilbab lebar yang sudah sangat terangsang itu. “Ayo, terus! Terus, Mbak… Yeahh… Ooohhh… Bagus!” seru keduanya bergantian.

”Aghhh.. Aahhhh... Auwhhhh...!” Hanifah yang sudah dikuasai nafsu birahi mengerang-erang kuat setiap kali sentakan penis Pak Man menyodok bagian dalam memeknya.

Menit demi menit berlalu, Pak Man masih bersemangat menggenjot tubuh ibu muda cantik itu. Sementara Hanifah sendiri sudah mulai kehilangan kendali, dia kini sudah tidak terlihat sebagai seseorang yang sedang diperkosa lagi, melainkan nampak hanyut menikmati ulah Pak Man.

Saat laki-laki itu minta untuk ganti gaya lagi, Hanifah dengan senang hati mengabulkannya. Kali ini dia telentang lagi. Pak Man mengangkat kedua paha sekal Hanifah dan disampirkan ke pundaknya, lalu kedua tangannya mencengkeram pergelangan tangan wanita cantik itu dan menariknya kuat-kuat. Kemudian dia kembali mendesakkan penisnya ke memek Hanifah dan menggenjotnya kuat-kuat. Wanita alim itu kembali menggeliat antara sakit bercampur nikmat.

Di ambang klimaks, tanpa sadar saat Pak Man melepaskan pegangannya dan kembali menindih tubuhnya, Hanifah memeluk laki-laki itu dan memberikan ciuman di mulutnya. Mereka berpagutan sampai gadis berjilbab itu mendesis panjang dengan tubuh mengejang, tangannya mencengkeram erat-erat lengan Pak Man. Cairan kentalkembali menyembur dari dalam memeknya.

Tapi Pak Man yang belum terpuaskan, setelah jeda beberapa menit, kembali menggerakkan penisnya maju mundur di dalam memek Hanifah.





“Uugghh… Ooohh !” desah Hanifah sambil mencengkeram kasur dengan kuat saat penis Pak Man kembali melesak ke dalam memeknya, cairan yang sudah membanjir di memeknya menimbulkan bunyi berdecak setiap kali penis laki-laki itu menghujam. Suara desahan pasrah wanita alim itu membuat Pak Man semakin bernafsu. Dia meraih payudara Hanifah dan meremasnya dengan gemas seolah ingin melumatkan benda kenyal itu.

Lima belas menit lamanya Pak Man menyetubuh Hanifah sampai akhirnya laki-laki itu menggeram saat merasakan sesuatu akan meledak dalam dirinya.

“Crott… crot… crot…” spermanya menyembur berhamburan membasahi rahim Hanifah dengan sangat deras. Pak Man merasakan sekujur syaraf seksualnya meledak saat itu, bagai seekor binatang ganas yang keluar mengoyak tubuhnya dari dalam. Tubuh tuanya menegang selama beberapa detik merasakan kenikmatan yang diperolehnya sebelum akhirnya melemas kembali dan tergolek mendekap tubuh mulus Hanifah. Setelah puas, baru dia bangkit. Dibiarkannya wanita alim yang bahenol itu terkapar di ranjang, wajah Hanifah tampak sedih dan basah oleh keringat, cairan sperma yang sangat banyak mengalir keluar dari memeknya yang sempit. Jilbab yang ia pakai sudah kusut dan basah kuyup oleh keringat.

Johan yang mendapat giliran terakhir maju sambil bersungut-sungut. Dia yang sedari tadi sudah telanjang hanya bisa mengocok penisnya sendiri sambil memelototi adegan persetubuhan kedua temannya dengan wanita berjilbab yang ternyata sangat cantik dan seksi itu.

“Jangan tiduran saja di situ, Mbak cantik.” Johan menarik tangan Hanifah dengan kasar hingga membuatnya tersentak ke depan. Diangkatnya wajah Hanifah yang tertunduk, ditatapnya sejenak dan disekanya air mata yang mengalir sebelum dengan tiba-tiba melumat bibir mungil wanita itu dengan ganas.

Mata Hanifah membelalak menerima serangan kilat itu. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mendorong dada Johan, namun sia-sia karena Johan memeluknya begitu kuat dengan tangan satunya memegangi kepalanya. Ciuman Johan juga semakin turun ke leher jenjangnya yang tidak tertutup jilbab, laki-laki itu membungkukkan badannya agar bisa menciumi payudara Hanifah yang mulus dan sekal. Johan menjilatinya dengan liar hingga permukaan payudara Hanifah basah oleh ludahnya, terkadang dia juga menggigiti puting susu wanita berjilbab itu, memberikan sensasi tersendiri bagi Hanifah. Sementara tangan satunya turun meraba-raba kemaluan Hanifah dan memainkan jarinya disitu, menyebabkan daerah itu makin berlendir.

“Pak… Pak… Ooohh… Aaaah!” desah Hanifah antara menolak dan menerima.

Johan kembali melumat bibirnya, sambil pelan-pelan merebahkan tubuh mulus Hanifah kembali ke atas kasur dan kemudian menekan penisnya dalam-dalam ke liang memek wanita cantik itu.

“Sshhh… sakit! Aawhhh…!!” rintih Hanifah ketika penis Johan yang besar menerobos memeknya. Sementara Johan terus berusaha memasukkan penisnya sambil melenguh-lenguh.

“Ough… aduh! Aduduhhhh…! Pak, pelan-pelan, pak!!! Aahhh… Auggghhhh…!” jerit Hanifah sambil mendorong tubuh Johan sedikit menjauh. Namun Johan tetap tidak peduli. Ia pun terus mendorong penisnya masuk perlahan. Gesekan yang ditimbulkan batang penis dan dinding rahim Hanifah membuat Hanifah merasakan sakit di selangkangannya. Apalagi ia harus menahan bobot tubuh Johan yang terbilang agak berat itu. PREDIKSI TOGEL JITU  SEMUA PASARAN

Mengetahui kondisi dan tidak ingin terlalu membuat ibu muda alim itu tersiksa lebih lama, Johan pun mendorong penisnya dengan kekuatan penuh hingga akhirnya amblas semuanya. Kedua tangannya memegang pinggul Hanifah agar batangnya tidak terlepas dari liang itu.

Johan mulai menarik penisnya yang masih tertancap di memek yang sempit itu. Gerakan maju mundurnya membuat Hanifah menggigit bibir bawahnya. Rasa perihnya mulai hilang, diganti rasa nikmat karena gesekan kulit daerah organ vital mereka berdua. Goyangan maju mundur Johan terus menerus seolah ingin menancapkan penisnya sedalam mungkin. Cukup lama ia melakukan gerakan menekan dan memutar liang itu. Beberapa menit berlalu hingga sebuah erangan panjang keluar dari mulut manis Hanifah.

“Ooooughhhhhhh… Ooughhhh… Oooooohhhhhhhhh… Paaak…!!!” Tubuh montoknya mengejang, kakinya menekan pinggul Johan. Cengkeraman kukunya di lengan laki-laki itu menandakan ia telah orgasme untuk kesekian kalinya. Setelah dua kali diperkosa, tiada lagi daya dalam diri Hanifah untuk mengimbangi serangan Johan.

Melihat kejadian itu, Johan pun mempercepat gerakannya, ia meningkatkan tempo goyangannya. Penisnya yang besar dan berurat menggesek dan menekan klitoris Hanifah ke dalam setiap kali benda itu menghujam. Kedua payudara Hanifah yang membusung tegak ikut berguncang hebat seirama guncangan badannya.

Johan segera meraih yang sebelah kanan dan meremasnya dengan gemas. Gairah wanita alim berjilbab itu mulai bangkit lagi, Hanifah merasakan kenikmatan yang berbeda dari biasanya, yang tidak didapatnya saat bercinta dengan suaminya. Tanpa disadarinya, ia juga ikut menggoyangkan pinggulnya seolah merespon gerakan Johan. Tapi Belum lagi sempat Hanifah menarik napas, Johan dengan kasar mengangkat dan membalikan tubuh sintalnya. Johan membuat Hanifah sekarang dalam posisi menungging. Pantat wanita cantik itu terangkat tinggi, sedangkan kepalanya tertunduk ke kasur dan badannya bertumpu pada kedua lutut dan tangannya. Johan dengan kasar dan dalam tempo yang cepat, kembali memompa memek becek Hanifah dari belakang.

“Aaaaghh… Eegghhhh… Sakiiit…!!” teriak Hanifah menerima perlakuan kasar dari Johan.

Mendengar itu, Johan malah semakin bersemangat dan semakin keras menghajar memek Hanifah dengan penisnya yang besar. Tangannya memegangi pinggang Hanifah sambil terus menarik maju mundur badan mulus wanita cantik itu, sehingga pompaan penisnya dalam memek Hanifah semakin keras dan cepat.

Mendapat perlakuan demikian, wanita alim itu hanya bisa mengerang-erang keras, tangannya kembali meremas-remas kasur. Badan Hanifah bergerak maju mundur mengikuti pompaan keras penis Johan. Setiap kali laki-laki itu memasukkan penisnya sampai mentok ke memeknya, ia berteriak. “AAHGHH… AAGHHHH… AGHHH…!!” serunya berulang-ulang. Semakin cepat Johan memompa penisnya, semakin keras pula erangan Hanifah.

Kemudian Johan merubah posisinya yang tadinya berlutut menjadi berjongkok di belakang Hanifah. Posisi itu membuat Johan dapat makin cepat lagi memompa memek sang ibu muda dari belakang dan membuat penisnya dapat makin keras menekan memek Hanifah, meskipun sebenarnya penis yang besar itu sudah mentok. Johan makin mempercepat pompaan penisnya sambil menjambak rambut Hanifah. PREDIKSI TOGEL JITU  SEMUA PASARAN

“Aaaaahh… Ouuuuhh… Aaaaaahhhh… Eeeeeehhhgggh…!!” teriakan Hanifah menggema di tengah hutan itu. Penis Johan yang besar terlihat makin cepat keluar masuk di dalam memeknya.

Hanifah dalam posisi demikian tidak dapat berbuat apa-apa selain mengikuti irama permainan laki-laki itu, mengikuti apa maunya Johan, beberapa menit bermain cepat, kemudian melambat dan menjadi cepat lagi.

Wajah Hanifah yang terdongak menunjukkan betapa dia sebenarnya menikmati perlakuan kasar laki-laki itu. Matanya merem melek dan mulutnya terbuka lebar menikmati serbuan penis Johan dari belakang. Tangannya makin keras meremas-remas kasur, payudaranya yang padat bergantung dan bergoyang keras ke depan dan ke belakang, memeknya sudah sangat basah, cairan memeknya yang bercampur sperma bukan saja meleleh banyak di kedua paha bagian dalamnya tapi sedikit-sedikit mulai menetes ke kasur yang dijadikan alas. Ternyata wanita berjilbab itu sudah sangat menikmati perlakuan kasar dari para pemerkosanya, dan orgasme berkali-kali.

Setengah jam lamanya Johan menyetubuhi dirinya. Cairan kewanitaan semakin deras membasahi kedua paha dalamnya, kaki Hanifah sudah mulai bergetar karena terlalu letih akibat orgasme yang berulang-ulang. Sementara Johan masih saja terus menggenjotkan penisnya seolah tidak akan berhenti, sampai akhirnya ketika Hanifah orgasme lagi, laki-laki itu mengejang kuat-kuat sambil menyentakkan penisnya dalam-dalam ke liang memek Hanifah yang sempit.

Johan melenguh keras. “AAAAHHHHKKKHHHH…!” dia merasakan kenikmatan yang luar biasa menghantam sekujur tubuhnya, dan seketika itu pula spermanya menyembur dengan sangat deras ke dalam rahim Hanifah. Seketika didorongnya tubuh ibu muda itu hingga tertelungkup di kasur, sementara dia sendiri terkapar terengah-engah merasakan kenikmatan yang luar biasa setelah menyetubuhi wanita berjilbab besar yang ternyata begitu cantik dan montok.

Dan selama sehari semalam, ketiga orang pemburu itu memperlakukan Hanifah tidak lebih dari budak nafsu yang harus siap melayani nafsu seksual mereka bertiga. Mereka tidak mengijinkan Hanifah untuk berpakaian, kecuali jilbab merah muda dan kaus kaki putihnya. Mereka juga memaksa Hanifah untuk menjadi pelayan di pondokan mereka, tentunya dengan tetap telanjang bulat. Dan semalaman, mereka bertiga memaksa Hanifah untuk melakukan hubungan seksual dengan berbagai gaya dan cara yang bisa mereka praktekkan.

Pesta seksual itu baru selesai sekitar jam empat pagi setelah Hanifah benar-benar tidak kuasa lagi bergerak. Mereka berempat kemudian tertidur di lantai beralas karpet usang tanpa busana. Johan tidur sambil menggenggam payudara Hanifah, Arman dan Pak Man tidur di sebelahnya.

Hanifah kembali ke rumahnya dengan tertatih, namun tidak menceritakan peristiwa itu pada siapa pun, termasuk suaminya. Ternyata ia memang diam-diam menikmati perkosaan yang menimpanya, sehingga saat suaminya keluar desa dan ia kembali diperkosa oleh ketiga orang pemburu itu dirumahnya, wanita alim itu hanya pasrah. Bahkan ia kembali orgasme berulang-ulang.

END


Tuesday, August 27, 2019

Sex Masa Sekolah

Sex Masa Sekolah

Sex Masa Sekolah


Selamat datang di situs kami, Kisah ini berawal dari keberanian manta muridku, Saher. Tampaknya sejak SMA dia sudah sering mengintip dan memperhatikan tubuhku yang molek. Sebenernya cerita dewasa ini tak layak diceritakan. Tapi, apa mau dikata perbuatan itu telah kami lakukan, dan kenikmatan itu ingin kami bagikan disini.

“Aarrgghhh…!!!” aku menjerit.
“Aku hampir keluar!” Saher bergumam. Gerakannya langsung cepat dan kuat. Aku tidak bisa bergoyang dalam posisi seperti itu, maka aku pasrah saja, menikmati gecakan-gecakan keras batang kemaluan Saher. Kedua tanganku mencengkeram sprei kuat-kuat.

“Terus, Sayang…, teruuusss…!”desahku.
“Ooohhh, enak sekali…, aku keenakan…, enak ‘bercinta’ sama Ibu!” Saher
“Ibu juga, Ibu juga, vagina Ibu keenakaan…!” Balasku.
“Aku sudah hampir keluar, Buu…, vagina Ibu enak bangeet… ”
“Ibu juga mau keluar lagi, tahan dulu! Teruss…, yaah, aku juga mau keluarr!”

Namaku Diana, tinggi 160 sentimeter, berat 56 kilogram, lingkar pinggang 65 sentimeter. Secara keseluruhan, sosokku kencang, garis tubuhku tampak bila mengenakan pakaian yang ketat terutama pakaian senam. Aku adalah Ibu dari dua anak berusia 44 tahun dan bekerja sebagai seorang guru disebuah SLTA di kota S.

Kata orang tahi lalat di daguku seperti Berliana Febriyanti, dan bentuk tubuhku mirip Minati Atmanegara yang tetap kencang di usia yang semakin menua. Mungkin mereka ada benarnya, tetapi aku memiliki payudara yang lebih besar sehingga terlihat lebih menggairahkan dibanding artis yang kedua. Semua karunia itu kudapat dengan olahraga yang teratur.Kisah ini berawal dari keberanian manta muridku, Saher. Tampaknya sejak SMA dia sudah sering mengintip dan memperhatikan tubuhku yang molek. Sebenernya cerita dewasa ini tak layak diceritakan. Tapi, apa mau dikata perbuatan itu telah kami lakukan, dan kenikmatan itu ingin kami bagikan disini.

“Aarrgghhh…!!!” aku menjerit.
“Aku hampir keluar!” Saher bergumam. Gerakannya langsung cepat dan kuat. Aku tidak bisa bergoyang dalam posisi seperti itu, maka aku pasrah saja, menikmati gecakan-gecakan keras batang kemaluan Saher. Kedua tanganku mencengkeram sprei kuat-kuat.

“Terus, Sayang…, teruuusss…!”desahku.
“Ooohhh, enak sekali…, aku keenakan…, enak ‘bercinta’ sama Ibu!” Saher
“Ibu juga, Ibu juga, vagina Ibu keenakaan…!” Balasku.
“Aku sudah hampir keluar, Buu…, vagina Ibu enak bangeet… ”
“Ibu juga mau keluar lagi, tahan dulu! Teruss…, yaah, aku juga mau keluarr!”

Namaku Diana, tinggi 160 sentimeter, berat 56 kilogram, lingkar pinggang 65 sentimeter. Secara keseluruhan, sosokku kencang, garis tubuhku tampak bila mengenakan pakaian yang ketat terutama pakaian senam. Aku adalah Ibu dari dua anak berusia 44 tahun dan bekerja sebagai seorang guru disebuah SLTA di kota S.


Kata orang tahi lalat di daguku seperti Berliana Febriyanti, dan bentuk tubuhku mirip Minati Atmanegara yang tetap kencang di usia yang semakin menua. Mungkin mereka ada benarnya, tetapi aku memiliki payudara yang lebih besar sehingga terlihat lebih menggairahkan dibanding artis yang kedua. Semua karunia itu kudapat dengan olahraga yang teratur.

Kira-kira 6 tahun yang lalu saat usiaku masih 38 tahun salah seorang sehabatku menitipkan anaknya yang ingin kuliah di tempatku, karena ia teman baikku dan suamiku tidak keberatan akhirnya aku menyetujuinya. Nama pemuda itu Saher, kulitnya kuning langsat dengan tinggi 173 cm. Badannya kurus kekar karena Saher seorang atlit karate di tempatnya. Oh ya, Saher ini pernah menjadi muridku saat aku masih menjadi guru SMA.

Saher sangat sopan dan tahu diri. Dia banyak membantu pekerjaan rumah dan sering menemani atau mengantar kedua anakku jika ingin bepergian. Dalam waktu sebulan saja dia sudah menyatu dengan keluargaku, bahkan suamiku sering mengajaknya main tenis bersama. Aku juga menjadi terbiasa dengan kehadirannya, awalnya aku sangat menjaga penampilanku bila di depannya. Aku tidak malu lagi mengenakan baju kaos ketat yang bagian dadanya agak rendah, lagi pula Saher memperlihatkan sikap yang wajar jika aku mengenakan pakaian yang agak menonjolkan keindahan garis tubuhku.

Sekitar 3 bulan setelah kedatangannya, suamiku mendapat tugas sekolah S-2 keluar negeri selama 2, 5 tahun. Aku sangat berat melepasnya, karena aku bingung bagaimana menyalurkan kebutuhan sex-ku yang masih menggebu-gebu. Walau usiaku sudah tidak muda lagi, tapi aku rutin melakukannya dengan suamiku, paling tidak seminggu 5 kali. Mungkin itu karena olahraga yang selalu aku jalankan, sehingga hasrat tubuhku masih seperti anak muda. Dan kini dengan kepergiannya otomatis aku harus menahan diri.

Awalnya biasa saja, tapi setelah 2 bulan kesepian yang amat sangat menyerangku. Itu membuat aku menjadi uring-uringan dan menjadi malas-malasan. Seperti minggu pagi itu, walau jam telah menunjukkan angka 9. Karena kemarin kedua anakku minta diantar bermalam di rumah nenek mereka, sehingga hari ini aku ingin tidur sepuas-puasnya. Setelah makan, aku lalu tidur-tiduran di sofa di depan TV. Tak lama terdengar suara pintu dIbuka dari kamar Saher.

Kudengar suara langkahnya mendekatiku.

“Bu Asmi..?” Suaranya berbisik, aku diam saja. Kupejamkan mataku makin erat. Setelah beberapa saat lengang, tiba-tiba aku tercekat ketika merasakan sesuatu di pahaku. Kuintip melalui sudut mataku, ternyata Saher sudah berdiri di samping ranjangku, dan matanya sedang tertuju menatap tubuhku, tangannya memegang bagian bawah gaunku, aku lupa kalau aku sedang mengenakan baju tidur yang tipis, apa lagi tidur telentang pula. Hatiku menjadi berdebar-debar tak karuan, aku terus berpura-pura tertidur.

“Bu Asmi..?” Suara Saher terdengar keras, kukira dia ingin memastikan apakah tidurku benar-benar nyeyak atau tidak.

Aku memutuskan untuk pura-pura tidur. Kurasakan gaun tidurku tersingkap semua sampai keleher.

Lalu kurasakan Saher mengelus bibirku, jantungku seperti melompat, aku mencoba tetap tenang agar pemuda itu tidak curiga. Kurasakan lagi tangan itu mengelus-elus ketiakku, karena tanganku masuk ke dalam bantal otomatis ketiakku terlihat. Kuintip lagi, wajah pemuda itu dekat sekali dengan wajahku, tapi aku yakin ia belum tahu kalau aku pura-pura tertidur kuatur napas selembut mungkin.

Lalu kurasakan tangannya menelusuri leherku, bulu kudukku meremang geli, aku mencoba bertahan, aku ingin tahu apa yang ingin dilakukannya terhadap tubuhku. Tak lama kemuadian aku merasakan tangannya meraba buah dadaku yang masih tertutup BH berwarna hitam, mula-mula ia cuma mengelus-elus, aku tetap diam sambil menikmati elusannya, lalu aku merasakan buah dadaku mulai diremas-remas, aku merasakan seperti ada sesuatu yang sedang bergejolak di dalam tubuhku, aku sudah lama merindukan sentuhan laki-laki dan kekasaran seorang pria. Aku memutuskan tetap diam sampai saatnya tiba. PREDIKSI TOGEL JITU  SEMUA PASARAN

Sekarang tangan Saher sedang berusaha membuka kancing BH-ku dari depan, tak lama kemudian kurasakan tangan dingin pemuda itu meremas dan memilin puting susuku. Aku ingin merintih nikmat tapi nanti amalah membuatnya takut, jadi kurasakan remasannya dalam diam. Kurasakan tangannya gemetar saat memencet puting susuku, kulirik pelan, kulihat Saher mendekatkan wajahnya ke arah buah dadaku. Lalu ia menjilat-jilat puting susuku, tubuhku ingin menggeliat merasakan kenikmatan isapannya, aku terus bertahan. Kulirik puting susuku yang berwarna merah tua sudah mengkilat oleh air liurnya, mulutnya terus menyedot puting susuku disertai gigitan-gigitan kecil. Perasaanku campur aduk tidak karuan, nikmat sekali.

Tangan kanan Saher mulai menelusuri selangkanganku, lalu kurasakan jarinya meraba vaginaku yang masih tertutup CD, aku tak tahu apakah vaginaku sudah basah apa belum. Yang jelas jari-jari Saher menekan-nekan lubang vaginaku dari luar CD, lalu kurasakan tangannya menyusup masuk ke dalam CD-ku. Jantungku berdetak keras sekali, kurasakan kenikmatan menjalari tubuhku. Jari-jari Saher mencoba memasuki lubang vaginaku, lalu kurasakan jarinya amblas masuk ke dalam, wah nikmat sekali. Aku harus mengakhiri Saherwaraku, aku sudah tak tahan lagi, kubuka mataku sambil menyentakkan tubuhku.

“Saher!! Ngapain kamu?”

Aku berusaha bangun duduk, tapi tangan Saher menekan pundakku dengan keras. Tiba-tiba Saher mecium mulutku secepat kilat, aku berusaha memberontak dengan mengerahkan seluruh tenagaku. Tapi Saher makin keras menekan pundakku, malah sekarang pemuda itu menindih tubuhku, aku kesulitan bernapas ditindih tubuhnya yang besar dan kekar berotot. Kurasakan mulutnya kembali melumat mulutku, lidahnya masuk ke dalam mulutku, tapi aku pura-pura menolak.

“Bu.., maafkan saya. Sudah lama saya ingin merasakan ini, maafkan saya Bu… ” Saher melepaskan ciumannya lalu memandangku dengan pandangan meminta.

“Kamu kan bisa denagan teman-teman kamu yang masih muda. Ibukan sudah tua,” Ujarku lembut.

“Tapi saya sudah tergila-gila dengan Bu Asmi.. Saat SMA saya sering mengintip BH yang Ibu gunakan… Saya akan memuaskan Ibu sepuas-puasnya,” jawab Saher.

“Ah kamu… Ya sudah terserah kamu sajalah”

Aku pura-pura menghela napas panjang, padahal tubuhku sudah tidak tahan ingin dijamah olehnya.

Lalu Saher melumat bibirku dan pelan-pelan aku meladeni permainan lidahnya. Kedua tangannya meremas-remas pantatku. Untuk membuatnya semakin membara, aku minta izin ke WC yang ada di dalam kamar tidurku. Di dalam kamar mandi, kubuka semua pakaian yang ada di tubuhku, kupandangi badanku di cermin. Benarkah pemuda seperti Saher terangsang melihat tubuhku ini? Perduli amat yang penting aku ingin merasakan bagaimana sich bercinta dengan remaja yang masih panas.

Keluar dari kamar mandi, Saher persis masuk kamar. Matanya terbeliak melihat tubuh sintalku yang tidak berpenutup sehelai benangpun.

“Body Ibu bagus banget.. ” dia memuji sembari mengecup putting susuku yang sudah mengeras sedari tadi. Tubuhku disandarkannya di tembok depan kamar mandi. Lalu diciuminya sekujur tubuhku, mulai dari pipi, kedua telinga, leher, hingga ke dadaku. Sepasang payudara montokku habis diremas-remas dan diciumi. Putingku setengah digigit-gigit, digelitik-gelitik dengan ujung lidah, juga dikenyot-kenyot dengan sangat bernafsu.

“Ibu hebat…,” desisnya.

“Apanya yang hebat..?” Tanyaku sambil mangacak-acak rambut Saher yang panjang seleher.

“Badan Ibu enggak banyak berubah dibandingkan saya SMA dulu” Katanya sambil terus melumat puting susuku. Nikmat sekali.

“Itu karena Ibu teratur olahraga” jawabku sembari meremas tonjolan kemaluannya. Dengan bergegas kuloloskan celana hingga celana dalamnya. Mengerti kemauanku, dia lalu duduk di pinggir ranjang dengan kedua kaki mengangkang. DIbukanya sendiri baju kaosnya, sementara aku berlutut meraih batang penisnya, sehingga kini kami sama-sama bugil.

Agak lama aku mencumbu kemaluannya, Saher minta gantian, dia ingin mengerjai vaginaku.

“Masukin aja yuk, Ibu sudah ingin ngerasain penis kamu San!” Cegahku sambil menciumnya.

Saher tersenyum lebar. “Sudah enggak sabar ya ?” godanya.

“Kamu juga sudah enggak kuatkan sebenarnya San,” Balasku sambil mencubit perutnya yang berotot. PREDIKSI TOGEL JITU  SEMUA PASARAN

Saher tersenyum lalu menarik tubuhku. Kami berpelukan, berciuman rapat sekali, berguling-guling di atas ranjang. Ternyata Saher pintar sekali bercumbu. Birahiku naik semakin tinggi dalam waktu yang sangat singkat. Terasa vaginaku semakin berdenyut-denyut, lendirku kian membanjir, tidak sabar menanti terobosan batang kemaluan Saher yang besar.

Berbeda dengan suamiku, Saher nampaknya lebih sabar. Dia tidak segera memasukkan batang penisnya, melainkan terus menciumi sekujur tubuhku. Terakhir dia membalikkan tubuhku hingga menelungkup, lalu diciuminya kedua pahaku bagian belakang, naik ke bongkahan pantatku, terus naik lagi hingga ke tengkuk. Birahiku menggelegak-gelegak.

Saher menyelipkan tangan kirinya ke bawah tubuhku, tubuh kami berimpitan dengan posisi aku membelakangi Saher, lalu diremas-remasnya buah dadaku. Lidahnya terus menjilat-jilat tengkuk, telinga, dan sesekali pipiku. Sementara itu tangan kanannya mengusap-usap vaginaku dari belakang. Terasa jari tengahnya menyusup lembut ke dalam liang vaginaku yang basah merekah.

“Vagina Ibu bagus, tebel, pasti enak ‘bercinta’ sama Ibu…,” dia berbisik persis di telingaku. Suaranya sudah sangat parau, pertanda birahinya pun sama tingginya dengan aku. Aku tidak bisa bereaksi apapun lagi. Kubiarkan saja apapun yang dilakukan Saher, hingga terasa tangan kanannya bergerak mengangkat sebelah pahaku.

Mataku terpejam rapat, seakan tak dapat lagi membuka. Terasa nafas Saher semakin memburu, sementara ujung lidahnya menggelitiki lubang telingaku. Tangan kirinya menggenggam dan meremas gemas buah dadaku, sementara yang kanan mengangkat sebelah pahaku semakin tinggi. Lalu…, terasa sebuah benda tumpul menyeruak masuk ke liang vaginaku dari arah belakang. Oh, my God, dia telah memasukkan rudalnya…!!!

Sejenak aku tidak dapat bereaksi sama sekali, melainkan hanya menggigit bibir kuat-kuat. Kunikmati inci demi inci batang kemaluan Saher memasuki liang vaginaku. Terasa penuh, nikmat luar biasa.

“Oohh…,” sesaat kemudian aku mulai bereaksi tak karuan. Tubuhku langsung menggerinjal-gerinjal, sementara Saher mulai memaju mundurkan tongkat wasiatnya. Mulutku mulai merintih-rintih tak terkendali.

“Saann, penismu enaaak…!!!,” kataku setengah menjerit.

Saher tidak menjawab, melainkan terus memaju mundurkan rudalnya. Gerakannya cepat dan kuat, bahkan cenderung kasar. Tentu saja aku semakin menjerit-jerit dibuatnya. Batang penisnya yang besar itu seperti hendak membongkar liang vaginaku sampai ke dasar.

“Oohh…, toloongg.., gustii…!!!”

Saher malah semakin bersemangat mendengar jerit dan rintihanku. Aku semakin erotis.

“Aahh, penismu…, oohh, aarrghh…, penismuu…, oohh…!!!”




Saher terus menggecak-gecak. Tenaganya kuat sekali, apalagi dengan batang penis yang luar biasa keras dan kaku. Walaupun kami bersetubuh dengan posisi menyamping, nampaknya Saher sama sekali tidak kesulitan menyodokkan batang kemaluannya pada vaginaku. Orgasmeku cepat sekali terasa akan meledak.

“Ibu mau keluar! Ibu mau keluaaar!!” aku menjerit-jerit.

“Yah, yah, yah, aku juga, aku juga! Enak banget ‘bercinta’ sama Ibu!” Saher menyodok-nyodok semakin kencang. Prediksi Bola

“Sodok terus, Saann!!!… Yah, ooohhh, yahh, ugghh!!!”

“Teruuss…, arrgghh…, sshh…, ohh…, sodok terus penismuuu…!”

“Oh, ah, uuugghhh… ”

“Enaaak…, penis kamu enak, penis kamu sedap, yahhh, teruuusss…”

Pada detik-detik terakhir, tangan kananku meraih pantat Saher, kuremas bongkahan pantatnya, sementara paha kananku mengangkat lurus tinggi-tinggi. Terasa vaginaku berdenyut-denyut kencang sekali. Aku orgasme!

Sesaat aku seperti melayang, tidak ingat apa-apa kecuali nikmat yang tidak terkatakan. Mungkin sudah ada lima tahun aku tak merasakan kenikmatan seperti ini. Saher mengecup-ngecup pipi serta daun telingaku. Sejenak dia membiarkan aku mengatur nafas, sebelum kemudian dia memintaku menungging. Aku baru sadar bahwa ternyata dia belum mencapai orgasme.

Kuturuti permintaan Saher. Dengan agak lunglai akibat orgasme yang luar biasa, kuatur posisi tubuhku hingga menungging. Saher mengikuti gerakanku, batang kemaluannya yang besar dan panjang itu tetap menancap dalam vaginaku.

Lalu perlahan terasa dia mulai mengayun pinggulnya. Ternyata dia luar biasa sabar. Dia memaju mundurkan gerak pinggulnya satu-dua secara teratur, seakan-akan kami baru saja memulai permainan, padahal tentu perjalanan birahinya sudah cukup tinggi tadi.

Aku menikmati gerakan maju-mundur penis Saher dengan diam. Kepalaku tertunduk, kuatur kembali nafasku. Tidak berapa lama, vaginaku mulai terasa enak kembali. Kuangkat kepalaku, menoleh ke belakang. Saher segera menunduk, dikecupnya pipiku.

“San.. Kamu hebat banget.. Ibu kira tadi kamu sudah hampir keluar,” kataku terus terang.

“Emangnya Ibu suka kalau aku cepet keluar?” jawabnya lembut di telingaku.

Aku tersenyum, kupalingkan mukaku lebih ke belakang. Saher mengerti, diciumnya bibirku. Lalu dia menggenjot lebih cepat. Dia seperti mengetahui bahwa aku mulai keenakan lagi. Maka kugoyang-goyang pinggulku perlahan, ke kiri dan ke kanan.

Saher melenguh. Diremasnya kedua bongkah pantatku, lalu gerakannya jadi lebih kuat dan cepat. Batang kemaluannya yang luar biasa keras menghunjam-hunjam vaginaku. Aku mulai mengerang-erang lagi.

“Oorrgghh…, aahh…, ennaak…, penismu enak bangeett… Ssann!!”

Saher tidak bersuara, melainkan menggecak-gecak semakin kuat. Tubuhku sampai terguncang-guncang. Aku menjerit-jerit. Cepat sekali, birahiku merambat naik semakin tinggi. Kurasakan Saher pun kali ini segera akan mencapai klimaks. Maka kuimbangi gerakannya dengan menggoyangkan pinggulku cepat-cepat. Kuputar-putar pantatku, sesekali kumajumundurkan berlawanan dengan gerakan Saher. Pemuda itu mulai mengerang-erang pertanda dia pun segera akan orgasme.

Tiba-tiba Saher menyuruhku berbalik. Dicabutnya penisnya dari kemaluanku. Aku berbalik cepat. Lalu kukangkangkan kedua kakiku dengan setengah mengangkatnya. Saher langsung menyodokkan kedua dengkulnya hingga merapat pada pahaku. Kedua kakiku menekuk mengangkang. Saher memegang kedua kakiku di bawah lutut, lalu batang penisnya yang keras menghunjam mulut vaginaku yang menganga.

“Aarrgghhh…!!!” aku menjerit.

“Aku hampir keluar!” Saher bergumam. Gerakannya langsung cepat dan kuat. Aku tidak bisa bergoyang dalam posisi seperti itu, maka aku pasrah saja, menikmati gecakan-gecakan keras batang kemaluan Saher. Kedua tanganku mencengkeram sprei kuat-kuat.

“Terus, Sayang…, teruuusss…!”desahku.

“Ooohhh, enak sekali…, aku keenakan…, enak ‘bercinta’ sama Ibu!” Saher

“Ibu juga, Ibu juga, vagina Ibu keenakaan…!” Balasku.

“Aku sudah hampir keluar, Buu…, vagina Ibu enak bangeet… ”

“Ibu juga mau keluar lagi, tahan dulu! Teruss…, yaah, aku juga mau keluarr!”

“Ah, oh, uughhh, aku enggak tahan, aku enggak tahan, aku mau keluaaar…!”

“Yaahh teruuss, sodok teruss!!! Ibu enak enak, Ibu enak, Saann…, aku mau keluar, aku mau keluar, vaginaku keenakan, aku keenakan ‘bercinta’ sama kamu…, yaahh…, teruss…, aarrgghh…, ssshhh…, uughhh…, aarrrghh!!!”

Tubuhku mengejang sesaat sementara otot vaginaku terasa berdenyut-denyut kencang. Aku menjerit panjang, tak kuasa menahan nikmatnya orgasme. Pada saat bersamaan, Saher menekan kuat-kuat, menghunjamkan batang kemaluannya dalam-dalam di liang vaginaku.

“Oohhh…!!!” dia pun menjerit, sementara terasa kemaluannya menyembur-nyemburkan cairan mani di dalam vaginaku. Nikmatnya tak terkatakan, indah sekali mencapai orgasme dalam waktu persis bersamaan seperti itu.

Lalu tubuh kami sama-sama melunglai, tetapi kemaluan kami masih terus bertautan. Saher memelukku mesra sekali. Sejenak kami sama-sama sIbuk mengatur nafas.

“Enak banget,” bisik Saher beberapa saat kemudian.

“Hmmm…” Aku menggeliat manja. Terasa batang kemaluan Saher bergerak-gerak di dalam vaginaku.

“Vagina Ibu enak banget, bisa nyedot-nyedot gitu…”

“Apalagi penis kamu…, gede, keras, dalemmm…”

Saher bergerak menciumi aku lagi. Kali ini diangkatnya tangan kananku, lalu kepalanya menyusup mencium ketiakku. Aku mengikik kegelian. Saher menjilati keringat yang membasahi ketiakku. Geli, tapi enak. Apalagi kemudian lidahnya terus menjulur-julur menjilati buah dadaku.

Saher lalu menetek seperti bayi. Aku mengikik lagi. Putingku dihisap, dijilat, digigit-gigit kecil. Kujambaki rambut Saher karena kelakuannya itu membuat birahiku mulai menyentak-nyentak lagi. Saher mengangkat wajahnya sedikit, tersenyum tipis, lalu berkata,

“Aku bisa enggak puas-puas ‘bercinta’ sama Ibu… Ibu juga suka kan?”

Aku tersenyum saja, dan itu sudah cukup bagi Saher sebagai jawaban. Alhasil, seharian itu kami bersetubuh lagi. Setelah break sejenak di sore hari malamnya Saher kembali meminta jatah dariku. Sedikitnya malam itu ada 3 ronde tambahan yang kami mainkan dengan entah berapa kali aku mencapai orgasme. Yang jelas, keesokan paginya tubuhku benar-benar lunglai, lemas tak bertenaga.

Hampir tidak tidur sama sekali, tapi aku tetap pergi ke sekolah. Di sekolah rasanya aku kuyu sekali. Teman-teman banyak yang mengira aku sakit, padahal aku justru sedang happy, sehabis bersetubuh sehari semalam dengan bekas muridku yang perkasa.

Kira-kira 6 tahun yang lalu saat usiaku masih 38 tahun salah seorang sehabatku menitipkan anaknya yang ingin kuliah di tempatku, karena ia teman baikku dan suamiku tidak keberatan akhirnya aku menyetujuinya. Nama pemuda itu Saher, kulitnya kuning langsat dengan tinggi 173 cm. Badannya kurus kekar karena Saher seorang atlit karate di tempatnya. Oh ya, Saher ini pernah menjadi muridku saat aku masih menjadi guru SMA. PREDIKSI TOGEL JITU  SEMUA PASARAN

Saher sangat sopan dan tahu diri. Dia banyak membantu pekerjaan rumah dan sering menemani atau mengantar kedua anakku jika ingin bepergian. Dalam waktu sebulan saja dia sudah menyatu dengan keluargaku, bahkan suamiku sering mengajaknya main tenis bersama. Aku juga menjadi terbiasa dengan kehadirannya, awalnya aku sangat menjaga penampilanku bila di depannya. Aku tidak malu lagi mengenakan baju kaos ketat yang bagian dadanya agak rendah, lagi pula Saher memperlihatkan sikap yang wajar jika aku mengenakan pakaian yang agak menonjolkan keindahan garis tubuhku.

Sekitar 3 bulan setelah kedatangannya, suamiku mendapat tugas sekolah S-2 keluar negeri selama 2, 5 tahun. Aku sangat berat melepasnya, karena aku bingung bagaimana menyalurkan kebutuhan sex-ku yang masih menggebu-gebu. Walau usiaku sudah tidak muda lagi, tapi aku rutin melakukannya dengan suamiku, paling tidak seminggu 5 kali. Mungkin itu karena olahraga yang selalu aku jalankan, sehingga hasrat tubuhku masih seperti anak muda. Dan kini dengan kepergiannya otomatis aku harus menahan diri.

Awalnya biasa saja, tapi setelah 2 bulan kesepian yang amat sangat menyerangku. Itu membuat aku menjadi uring-uringan dan menjadi malas-malasan. Seperti minggu pagi itu, walau jam telah menunjukkan angka 9. Karena kemarin kedua anakku minta diantar bermalam di rumah nenek mereka, sehingga hari ini aku ingin tidur sepuas-puasnya. Setelah makan, aku lalu tidur-tiduran di sofa di depan TV. Tak lama terdengar suara pintu dIbuka dari kamar Saher.

Kudengar suara langkahnya mendekatiku.

“Bu Asmi..?” Suaranya berbisik, aku diam saja. Kupejamkan mataku makin erat. Setelah beberapa saat lengang, tiba-tiba aku tercekat ketika merasakan sesuatu di pahaku. Kuintip melalui sudut mataku, ternyata Saher sudah berdiri di samping ranjangku, dan matanya sedang tertuju menatap tubuhku, tangannya memegang bagian bawah gaunku, aku lupa kalau aku sedang mengenakan baju tidur yang tipis, apa lagi tidur telentang pula. Hatiku menjadi berdebar-debar tak karuan, aku terus berpura-pura tertidur.

“Bu Asmi..?” Suara Saher terdengar keras, kukira dia ingin memastikan apakah tidurku benar-benar nyeyak atau tidak.

Aku memutuskan untuk pura-pura tidur. Kurasakan gaun tidurku tersingkap semua sampai keleher.

Lalu kurasakan Saher mengelus bibirku, jantungku seperti melompat, aku mencoba tetap tenang agar pemuda itu tidak curiga. Kurasakan lagi tangan itu mengelus-elus ketiakku, karena tanganku masuk ke dalam bantal otomatis ketiakku terlihat. Kuintip lagi, wajah pemuda itu dekat sekali dengan wajahku, tapi aku yakin ia belum tahu kalau aku pura-pura tertidur kuatur napas selembut mungkin.

Lalu kurasakan tangannya menelusuri leherku, bulu kudukku meremang geli, aku mencoba bertahan, aku ingin tahu apa yang ingin dilakukannya terhadap tubuhku. Tak lama kemuadian aku merasakan tangannya meraba buah dadaku yang masih tertutup BH berwarna hitam, mula-mula ia cuma mengelus-elus, aku tetap diam sambil menikmati elusannya, lalu aku merasakan buah dadaku mulai diremas-remas, aku merasakan seperti ada sesuatu yang sedang bergejolak di dalam tubuhku, aku sudah lama merindukan sentuhan laki-laki dan kekasaran seorang pria. Aku memutuskan tetap diam sampai saatnya tiba.

Sekarang tangan Saher sedang berusaha membuka kancing BH-ku dari depan, tak lama kemudian kurasakan tangan dingin pemuda itu meremas dan memilin puting susuku. Aku ingin merintih nikmat tapi nanti amalah membuatnya takut, jadi kurasakan remasannya dalam diam. Kurasakan tangannya gemetar saat memencet puting susuku, kulirik pelan, kulihat Saher mendekatkan wajahnya ke arah buah dadaku. Lalu ia menjilat-jilat puting susuku, tubuhku ingin menggeliat merasakan kenikmatan isapannya, aku terus bertahan. Kulirik puting susuku yang berwarna merah tua sudah mengkilat oleh air liurnya, mulutnya terus menyedot puting susuku disertai gigitan-gigitan kecil. Perasaanku campur aduk tidak karuan, nikmat sekali.

Tangan kanan Saher mulai menelusuri selangkanganku, lalu kurasakan jarinya meraba vaginaku yang masih tertutup CD, aku tak tahu apakah vaginaku sudah basah apa belum. Yang jelas jari-jari Saher menekan-nekan lubang vaginaku dari luar CD, lalu kurasakan tangannya menyusup masuk ke dalam CD-ku. Jantungku berdetak keras sekali, kurasakan kenikmatan menjalari tubuhku. Jari-jari Saher mencoba memasuki lubang vaginaku, lalu kurasakan jarinya amblas masuk ke dalam, wah nikmat sekali. Aku harus mengakhiri Saherwaraku, aku sudah tak tahan lagi, kubuka mataku sambil menyentakkan tubuhku.

“Saher!! Ngapain kamu?”

Aku berusaha bangun duduk, tapi tangan Saher menekan pundakku dengan keras. Tiba-tiba Saher mecium mulutku secepat kilat, aku berusaha memberontak dengan mengerahkan seluruh tenagaku. Tapi Saher makin keras menekan pundakku, malah sekarang pemuda itu menindih tubuhku, aku kesulitan bernapas ditindih tubuhnya yang besar dan kekar berotot. Kurasakan mulutnya kembali melumat mulutku, lidahnya masuk ke dalam mulutku, tapi aku pura-pura menolak.

“Bu.., maafkan saya. Sudah lama saya ingin merasakan ini, maafkan saya Bu… ” Saher melepaskan ciumannya lalu memandangku dengan pandangan meminta.

“Kamu kan bisa denagan teman-teman kamu yang masih muda. Ibukan sudah tua,” Ujarku lembut.

“Tapi saya sudah tergila-gila dengan Bu Asmi.. Saat SMA saya sering mengintip BH yang Ibu gunakan… Saya akan memuaskan Ibu sepuas-puasnya,” jawab Saher.

“Ah kamu… Ya sudah terserah kamu sajalah”

Aku pura-pura menghela napas panjang, padahal tubuhku sudah tidak tahan ingin dijamah olehnya.

Lalu Saher melumat bibirku dan pelan-pelan aku meladeni permainan lidahnya. Kedua tangannya meremas-remas pantatku. Untuk membuatnya semakin membara, aku minta izin ke WC yang ada di dalam kamar tidurku. Di dalam kamar mandi, kubuka semua pakaian yang ada di tubuhku, kupandangi badanku di cermin. Benarkah pemuda seperti Saher terangsang melihat tubuhku ini? Perduli amat yang penting aku ingin merasakan bagaimana sich bercinta dengan remaja yang masih panas.

Keluar dari kamar mandi, Saher persis masuk kamar. Matanya terbeliak melihat tubuh sintalku yang tidak berpenutup sehelai benangpun.

“Body Ibu bagus banget.. ” dia memuji sembari mengecup putting susuku yang sudah mengeras sedari tadi. Tubuhku disandarkannya di tembok depan kamar mandi. Lalu diciuminya sekujur tubuhku, mulai dari pipi, kedua telinga, leher, hingga ke dadaku. Sepasang payudara montokku habis diremas-remas dan diciumi. Putingku setengah digigit-gigit, digelitik-gelitik dengan ujung lidah, juga dikenyot-kenyot dengan sangat bernafsu.

“Ibu hebat…,” desisnya.

“Apanya yang hebat..?” Tanyaku sambil mangacak-acak rambut Saher yang panjang seleher.

“Badan Ibu enggak banyak berubah dibandingkan saya SMA dulu” Katanya sambil terus melumat puting susuku. Nikmat sekali.

“Itu karena Ibu teratur olahraga” jawabku sembari meremas tonjolan kemaluannya. Dengan bergegas kuloloskan celana hingga celana dalamnya. Mengerti kemauanku, dia lalu duduk di pinggir ranjang dengan kedua kaki mengangkang. DIbukanya sendiri baju kaosnya, sementara aku berlutut meraih batang penisnya, sehingga kini kami sama-sama bugil.

Agak lama aku mencumbu kemaluannya, Saher minta gantian, dia ingin mengerjai vaginaku.

“Masukin aja yuk, Ibu sudah ingin ngerasain penis kamu San!” Cegahku sambil menciumnya.

Saher tersenyum lebar. “Sudah enggak sabar ya ?” godanya.

“Kamu juga sudah enggak kuatkan sebenarnya San,” Balasku sambil mencubit perutnya yang berotot. PREDIKSI TOGEL JITU  SEMUA PASARAN

Saher tersenyum lalu menarik tubuhku. Kami berpelukan, berciuman rapat sekali, berguling-guling di atas ranjang. Ternyata Saher pintar sekali bercumbu. Birahiku naik semakin tinggi dalam waktu yang sangat singkat. Terasa vaginaku semakin berdenyut-denyut, lendirku kian membanjir, tidak sabar menanti terobosan batang kemaluan Saher yang besar.

Berbeda dengan suamiku, Saher nampaknya lebih sabar. Dia tidak segera memasukkan batang penisnya, melainkan terus menciumi sekujur tubuhku. Terakhir dia membalikkan tubuhku hingga menelungkup, lalu diciuminya kedua pahaku bagian belakang, naik ke bongkahan pantatku, terus naik lagi hingga ke tengkuk. Birahiku menggelegak-gelegak.

Saher menyelipkan tangan kirinya ke bawah tubuhku, tubuh kami berimpitan dengan posisi aku membelakangi Saher, lalu diremas-remasnya buah dadaku. Lidahnya terus menjilat-jilat tengkuk, telinga, dan sesekali pipiku. Sementara itu tangan kanannya mengusap-usap vaginaku dari belakang. Terasa jari tengahnya menyusup lembut ke dalam liang vaginaku yang basah merekah.

“Vagina Ibu bagus, tebel, pasti enak ‘bercinta’ sama Ibu…,” dia berbisik persis di telingaku. Suaranya sudah sangat parau, pertanda birahinya pun sama tingginya dengan aku. Aku tidak bisa bereaksi apapun lagi. Kubiarkan saja apapun yang dilakukan Saher, hingga terasa tangan kanannya bergerak mengangkat sebelah pahaku.

Mataku terpejam rapat, seakan tak dapat lagi membuka. Terasa nafas Saher semakin memburu, sementara ujung lidahnya menggelitiki lubang telingaku. Tangan kirinya menggenggam dan meremas gemas buah dadaku, sementara yang kanan mengangkat sebelah pahaku semakin tinggi. Lalu…, terasa sebuah benda tumpul menyeruak masuk ke liang vaginaku dari arah belakang. Oh, my God, dia telah memasukkan rudalnya…!!!

Sejenak aku tidak dapat bereaksi sama sekali, melainkan hanya menggigit bibir kuat-kuat. Kunikmati inci demi inci batang kemaluan Saher memasuki liang vaginaku. Terasa penuh, nikmat luar biasa.

“Oohh…,” sesaat kemudian aku mulai bereaksi tak karuan. Tubuhku langsung menggerinjal-gerinjal, sementara Saher mulai memaju mundurkan tongkat wasiatnya. Mulutku mulai merintih-rintih tak terkendali.

“Saann, penismu enaaak…!!!,” kataku setengah menjerit.

Saher tidak menjawab, melainkan terus memaju mundurkan rudalnya. Gerakannya cepat dan kuat, bahkan cenderung kasar. Tentu saja aku semakin menjerit-jerit dibuatnya. Batang penisnya yang besar itu seperti hendak membongkar liang vaginaku sampai ke dasar.

“Oohh…, toloongg.., gustii…!!!”

Saher malah semakin bersemangat mendengar jerit dan rintihanku. Aku semakin erotis.

“Aahh, penismu…, oohh, aarrghh…, penismuu…, oohh…!!!”

Saher terus menggecak-gecak. Tenaganya kuat sekali, apalagi dengan batang penis yang luar biasa keras dan kaku. Walaupun kami bersetubuh dengan posisi menyamping, nampaknya Saher sama sekali tidak kesulitan menyodokkan batang kemaluannya pada vaginaku. Orgasmeku cepat sekali terasa akan meledak.

“Ibu mau keluar! Ibu mau keluaaar!!” aku menjerit-jerit.

“Yah, yah, yah, aku juga, aku juga! Enak banget ‘bercinta’ sama Ibu!” Saher menyodok-nyodok semakin kencang. Prediksi Bola

“Sodok terus, Saann!!!… Yah, ooohhh, yahh, ugghh!!!”

“Teruuss…, arrgghh…, sshh…, ohh…, sodok terus penismuuu…!”

“Oh, ah, uuugghhh… ”

“Enaaak…, penis kamu enak, penis kamu sedap, yahhh, teruuusss…”



Pada detik-detik terakhir, tangan kananku meraih pantat Saher, kuremas bongkahan pantatnya, sementara paha kananku mengangkat lurus tinggi-tinggi. Terasa vaginaku berdenyut-denyut kencang sekali. Aku orgasme!

Sesaat aku seperti melayang, tidak ingat apa-apa kecuali nikmat yang tidak terkatakan. Mungkin sudah ada lima tahun aku tak merasakan kenikmatan seperti ini. Saher mengecup-ngecup pipi serta daun telingaku. Sejenak dia membiarkan aku mengatur nafas, sebelum kemudian dia memintaku menungging. Aku baru sadar bahwa ternyata dia belum mencapai orgasme.

Kuturuti permintaan Saher. Dengan agak lunglai akibat orgasme yang luar biasa, kuatur posisi tubuhku hingga menungging. Saher mengikuti gerakanku, batang kemaluannya yang besar dan panjang itu tetap menancap dalam vaginaku.

Lalu perlahan terasa dia mulai mengayun pinggulnya. Ternyata dia luar biasa sabar. Dia memaju mundurkan gerak pinggulnya satu-dua secara teratur, seakan-akan kami baru saja memulai permainan, padahal tentu perjalanan birahinya sudah cukup tinggi tadi.

Aku menikmati gerakan maju-mundur penis Saher dengan diam. Kepalaku tertunduk, kuatur kembali nafasku. Tidak berapa lama, vaginaku mulai terasa enak kembali. Kuangkat kepalaku, menoleh ke belakang. Saher segera menunduk, dikecupnya pipiku.

“San.. Kamu hebat banget.. Ibu kira tadi kamu sudah hampir keluar,” kataku terus terang.

“Emangnya Ibu suka kalau aku cepet keluar?” jawabnya lembut di telingaku.

Aku tersenyum, kupalingkan mukaku lebih ke belakang. Saher mengerti, diciumnya bibirku. Lalu dia menggenjot lebih cepat. Dia seperti mengetahui bahwa aku mulai keenakan lagi. Maka kugoyang-goyang pinggulku perlahan, ke kiri dan ke kanan.

Saher melenguh. Diremasnya kedua bongkah pantatku, lalu gerakannya jadi lebih kuat dan cepat. Batang kemaluannya yang luar biasa keras menghunjam-hunjam vaginaku. Aku mulai mengerang-erang lagi.

“Oorrgghh…, aahh…, ennaak…, penismu enak bangeett… Ssann!!”

Saher tidak bersuara, melainkan menggecak-gecak semakin kuat. Tubuhku sampai terguncang-guncang. Aku menjerit-jerit. Cepat sekali, birahiku merambat naik semakin tinggi. Kurasakan Saher pun kali ini segera akan mencapai klimaks. Maka kuimbangi gerakannya dengan menggoyangkan pinggulku cepat-cepat. Kuputar-putar pantatku, sesekali kumajumundurkan berlawanan dengan gerakan Saher. Pemuda itu mulai mengerang-erang pertanda dia pun segera akan orgasme.

Tiba-tiba Saher menyuruhku berbalik. Dicabutnya penisnya dari kemaluanku. Aku berbalik cepat. Lalu kukangkangkan kedua kakiku dengan setengah mengangkatnya. Saher langsung menyodokkan kedua dengkulnya hingga merapat pada pahaku. Kedua kakiku menekuk mengangkang. Saher memegang kedua kakiku di bawah lutut, lalu batang penisnya yang keras menghunjam mulut vaginaku yang menganga. PREDIKSI TOGEL JITU  SEMUA PASARAN

“Aarrgghhh…!!!” aku menjerit.

“Aku hampir keluar!” Saher bergumam. Gerakannya langsung cepat dan kuat. Aku tidak bisa bergoyang dalam posisi seperti itu, maka aku pasrah saja, menikmati gecakan-gecakan keras batang kemaluan Saher. Kedua tanganku mencengkeram sprei kuat-kuat.

“Terus, Sayang…, teruuusss…!”desahku.

“Ooohhh, enak sekali…, aku keenakan…, enak ‘bercinta’ sama Ibu!” Saher

“Ibu juga, Ibu juga, vagina Ibu keenakaan…!” Balasku.

“Aku sudah hampir keluar, Buu…, vagina Ibu enak bangeet… ”

“Ibu juga mau keluar lagi, tahan dulu! Teruss…, yaah, aku juga mau keluarr!”

“Ah, oh, uughhh, aku enggak tahan, aku enggak tahan, aku mau keluaaar…!”

“Yaahh teruuss, sodok teruss!!! Ibu enak enak, Ibu enak, Saann…, aku mau keluar, aku mau keluar, vaginaku keenakan, aku keenakan ‘bercinta’ sama kamu…, yaahh…, teruss…, aarrgghh…, ssshhh…, uughhh…, aarrrghh!!!”

Tubuhku mengejang sesaat sementara otot vaginaku terasa berdenyut-denyut kencang. Aku menjerit panjang, tak kuasa menahan nikmatnya orgasme. Pada saat bersamaan, Saher menekan kuat-kuat, menghunjamkan batang kemaluannya dalam-dalam di liang vaginaku.

“Oohhh…!!!” dia pun menjerit, sementara terasa kemaluannya menyembur-nyemburkan cairan mani di dalam vaginaku. Nikmatnya tak terkatakan, indah sekali mencapai orgasme dalam waktu persis bersamaan seperti itu.

Lalu tubuh kami sama-sama melunglai, tetapi kemaluan kami masih terus bertautan. Saher memelukku mesra sekali. Sejenak kami sama-sama sIbuk mengatur nafas.

“Enak banget,” bisik Saher beberapa saat kemudian.

“Hmmm…” Aku menggeliat manja. Terasa batang kemaluan Saher bergerak-gerak di dalam vaginaku. PREDIKSI TOGEL JITU  SEMUA PASARAN

Baca Juga > Cerita Sex Rekan Bisnisku Memilik Anak Gadis Bahenol

“Vagina Ibu enak banget, bisa nyedot-nyedot gitu…”

“Apalagi penis kamu…, gede, keras, dalemmm…”

Saher bergerak menciumi aku lagi. Kali ini diangkatnya tangan kananku, lalu kepalanya menyusup mencium ketiakku. Aku mengikik kegelian. Saher menjilati keringat yang membasahi ketiakku. Geli, tapi enak. Apalagi kemudian lidahnya terus menjulur-julur menjilati buah dadaku.

Saher lalu menetek seperti bayi. Aku mengikik lagi. Putingku dihisap, dijilat, digigit-gigit kecil. Kujambaki rambut Saher karena kelakuannya itu membuat birahiku mulai menyentak-nyentak lagi. Saher mengangkat wajahnya sedikit, tersenyum tipis, lalu berkata,

“Aku bisa enggak puas-puas ‘bercinta’ sama Ibu… Ibu juga suka kan?”

Aku tersenyum saja, dan itu sudah cukup bagi Saher sebagai jawaban. Alhasil, seharian itu kami bersetubuh lagi. Setelah break sejenak di sore hari malamnya Saher kembali meminta jatah dariku. Sedikitnya malam itu ada 3 ronde tambahan yang kami mainkan dengan entah berapa kali aku mencapai orgasme. Yang jelas, keesokan paginya tubuhku benar-benar lunglai, lemas tak bertenaga.

Hampir tidak tidur sama sekali, tapi aku tetap pergi ke sekolah. Di sekolah rasanya aku kuyu sekali. Teman-teman banyak yang mengira aku sakit, padahal aku justru sedang happy, sehabis bersetubuh sehari semalam dengan bekas muridku yang perkasa.


Sports

Business

Life & style

Games

Fashion

Technology