Saturday, February 9, 2019

Cerita Hot Terbaru Ngentot Dengan Mantan Pacar Yang Kesepian


Cerita Hot Terbaru Ngentot Dengan Mantan Pacar Yang Kesepian

Acara survey darmawisata membuat hubungan Santi, Linda dan aku agak aneh. Santi dan Linda tahu bahwa aku telah berhubungan seks dengan keduanya. Santi dan Linda adalah sahabat sejak kecil karena mereka selalu satu kelas sejak SD dan rumah mereka tidak berjauhan. Sebagai sahabat mereka sulit untuk saling memarahi. Kami saling terdiam dan hanya ngobrol seperlunya. Terus berlanjut hingga ulangan kenaikan kelas dan darmawisata.

Saat darmawisata itu, kulihat beberapa kali Santi menatap bukit tempat dia dan aku berikrar sebagai pacar. Saat darmawisata itu, kulihat beberapa kali Linda menatap air terjun tempat dia memberikan perawannya padaku.

Yudi menugaskan Santi, Linda dan aku membuat laporan panitia darmawisata. Kesempatan ini aku gunakan untuk menyelesaikan permasalahan segitiga kami. Perdebatan alot karena kami semua membela diri. Sampai akhirnya kami sadar bahwa kami semua sama2 salah. Santi dan Linda tidak saling terbuka bila menyukaiku, sedangkan aku tidak tegas memilih dan menolak.

Linda membuka diri dan memulai minta maaf kepada Santi dan aku. Aku juga meminta maaf kepada Santi dan Linda. Santi sejenak terdiam, terlihat airmatanya berlinang, lalu dengan erat dia memeluk Linda. Akhirnya kami menyatakan perasaan dan melihat kenyataan bahwa kami saling mencintai satu sama lain. Bukan cinta segitiga, tetapi cinta bertiga dan untuk sementara kita saling menjaga cinta unik ini. Cinta tidak harus pacaran dan mereka memutuskan bahwa aku bukan pacar Santi dan juga bukan pacar Linda. Waduhh..!

Usai liburan, kembali masuk sekolah di kelas 3 SMA. Kebijakan sekolah adalah tidak mengubah kelas, sehingga kami sekelas kembali dengan teman2 sekelas di kelas 2. Artinya Santi, Linda dan aku kembali sekelas, tapi tidak lagi aktif jadi pengurus kelas. Aku tetap berusaha merayu Santi untuk menjadi pacarku, tapi dia terlihat menghindar dan hanya menjawab dengan senyumnya yang khas.

Saat wali kelas menyuruh membentuk kelompok belajar kecil 3 sampai 5 siswa, Santi dan Linda memasukkan aku jadi kelompok mereka. Aku melihat mereka dan mereka hanya tersenyum penuh misteri. Mereka sepakat belajar bersama dilakukan hari rabu sore di rumah Santi dan sabtu sore di rumah Linda.
Belajar bersama hari rabu sore berjalan lancar, kami belajar bersama di rumah Santi yang tidak terlalu besar dan disambut hangat oleh keluarganya. Belajar bersama di rumah Linda terasa janggal. Rumahnya sepi. Saat belajar bersama, Santi dan Linda malah membicarakan masalah baju pesta hingga baju tidur. Lalu mereka beranjak ke lemari Linda dan tanpa sungkan mengganti pakaian di depanku. Tentu saja aku berulangkali menelan ludah. Sampai akhirnya mereka sama2 memakai daster.

“Nah belajar sambil pake daster ini baru enak, lebih leluasa. Ya kan San?”, tanya Linda.
“Tapi lebih enak pake daster ini, yang tanpa lengan, terus lubang lengannya besar, terus pendek sepaha”, kata Santi yang langsung mengenakan daster mini.

Linda kembali memilih baju di lemarinya.

“Ini ada yang lebih simple dan tipis”, kata Linda.
“Kalau pakai yang tipis, bh dan cd nya kelihatan, warnanya tidak cocok”, kata Santi.
“Kalau begitu jangan pake bh dan cd dong”, kata Linda sambil mencopot celana dalam dan bhnya lalu menggunakan kembali daster tipisnya.
“Aku juga ah, biar plong”, kata Santi yang juga mencopot celana dalam dan bhnya lalu menggunakan daster minimnya.

Setelah itu mereka kembali kepadaku untuk belajar bersama sambil tiduran. Aku tak bisa konsentrasi belajar karena didepanku ada dua gadis hanya berbalut pakaian minim dan tipis. Mereka bagaikan bugil saja. Santi dan Linda tersenyum melihat kekikukanku.

“Eh lihat, pentilmu kelihatan”, kata Linda sambil tangannya memegang puting susu Santi yang membekas didasternya.
“Kamu juga kelihatan tuh”, Santi membalas memegang puting susu Linda yang terlihat jelas dibalik dasternya. Lalu mereka saling memainkan puting susu sahabatnya.
“Enak ya..”, terasa sekali mereka menggodaku. Dan tentu saja aku terangsang. Degup dadaku mengencang, penisku mulai menegang.

Dasternya kan pendek. Tuh memeknya jadi kelihatan”, Linda menunjuk vagina Santi yang tersingkap. Tapi Linda juga menggerakkan kakinya sehingga vaginanya tersingkap.

“Wah bulu memekmu bagus ya..”, tangan Linda mengelus-ngelus vagina Santi.
“Kamu juga. Memekmu tebal”, kata Santi membalas mengelus vagina Linda.

Aku tak tahan lagi. Aku ikut tiduran didekat mereka. Kuhampiri Santi dari belakang dan kucium tengkuknya. Santi dan Linda tersenyum. Santi membalikkan tubuhnya menghadapku, sedangkan Linda beranjak dan berpindah ke belakangku.

Santi mencium bibirku. Tanganku menggerayangi susu dan vagina Santi. Matanya terpejam. Linda sibuk mencopot celanaku, lalu menggenggam dan mengusap2 penisku. Aku tak begitu memperhatikan Linda, aku hanya senang dan sangat senang bisa mencium Santi. Telah beberapa bulan ini Santi selalu menghindar.

Aku mengangkat dan mencopot daster Santi sehingga dia bugil. Lalu akupun mencopot bajuku hingga bugil juga. Santi menyuruh Linda untuk bugil juga. Aku tetap tak mempedulikan Linda. Aku hanya ingin melepas dahagaku dan menunjukkan cintaku pada Santi. Maka segera kulumat kedua susunya, kunikmati dengan sepuas-puasnya. Linda kubiarkan berbuat semaunya. Dia mengambil penisku dan mulai menciuminya.

Aku terus mencumbu mesra Santi. Setelah membelai vaginanya, aku mulai menciumi dan menjilati itil dan lubang vaginanya. Santi mengerang keras. Melihat aku memainkan vagina Santi, dan menderang erangan Santi, tanpa sadar Lindapun ikut mengerang. Linda gemas dan menggigit penisku pelan.

Aku kembali mencium bibir Santi dan mendekap erat. Linda yang tak mau melepas penisku, melihat jarak penisku dan vagina Santi sudah mendekat. Linda melepaskan emutan penis, memegang penisku dan didekatkan ke vagina Santi. Aku merasa penisku sudah menempel di vagina Santi. Linda meluruskan dan mendorong penisku hingga kepala penisku mulai masuk ke lubang vagina Santi.

Santi menatapku dengan mata sayu dan pasrah. Sesekali dia menyebut namaku. Kupanggil juga namanya, dan tanpa membuang waktu kutekan pantatku sehingga penisku amblas kedalam vaginanya.

“Aww.. Jar.. Linda..”, Santi menjerit sambil memanggil namaku dan juga memanggil Linda.

Aku genjot sekali lagi sehingga penisku keluar lalu masuk lagi ke vaginanya.

“Awwh.. Linda..”, Santi memanggil Linda.

Linda mendekat kekepala Santi dan memandang Santi.

“Ennakk Linn..”, kata Santi.

Aku menciumi susu Santi dan menggenjot lagi berulang-ulang dan menimbulkan bunyi ceplak ceplok saat vagina Santi tersodok-sodok penisku.


“Enak Lin, nanti gantian ya..”, kata Santi dengan suara terengahengah.

Aku tak peduli. Aku hanya ingin melampiaskan rinduku pada Santi.

Sekarang Santi menggerakkan pinggulnya dengan kencang dan terus berkoceh ke Linda. Linda mengelus kepala Santi sambil melihatku menggenjot dan menciumi susu Santi. Aku mengangkat kepala dan dadaku dan membiarkan Linda melihat penisku keluar masuk vagina Santi.

Santi tak tahan lagi. Dia mengerang kerass sekali. Lalu terkulai lemas. Aku terus menggenjot ingin mengeluarkan maniku. Tapi Santi merangkul leherku dan berkata

“Aku sudah Jar, sekarang gantian Linda”
“Tapi aku cinta kamu San”, kataku terengah.
“Tapi Linda juga cinta kamu Jar”, balas Santi,
“dan aku cinta Linda”, lanjut Santi.
“Jadi kalau kamu cinta aku, kamu harus cinta Linda juga”, kata Santi sambil mengusap kepalaku.

Aku terdiam dan menghentikan genjotanku. Memandang Linda. Linda tersenyum menunggu. Aku memandang Santi. Santi mengangguk, menyuruhku ke Linda. Aku memeluk erat Santi. Santi mendorongku pelan-pelan.

“Jar, bilang kalau kamu juga cinta Linda”, Santi memaksaku. Pelan aku mengangguk.

Lalu menghampiri Linda.

“Lin, aku cinta kamu”, kataku.
“Aku juga cinta kamu Jar”, kata Linda.

Aku mencium bibirnya, merebahkannya lalu menindihnya. Sebenarnya secara tubuh, Linda lebih menarik. Berkulit lebih putih, lebih padat, dengan susu dan vagina yang lebih sintal. Tapi aku lebih suka Santi karena senyumnya. Tapi aku sedang dalam gairah seks yang tinggi, maka tubuh Linda tak kusia2kan. Kulumat susu dan vaginanya hingga Linda mengerang dan memanggil-manggil Santi.

Santi menghampiri Linda, membelai rambutnya. Lalu Santi juga membelai rambutku, punggungku dan pantatku. Santi memintaku mengangkat pantatku yang menindih Linda, lalu Santi mencium dan mengulum penisku sebentar. Setelah itu segera ia mengarahkan penisku ke vagina Linda. Setelah lurus, Santi menekan pantatku sehingga penisku masuk ke vagina Linda. Linda menjerit dan memanggil namaku dan nama Santi.

Aku menggoyang perlahan beberapa kali, setelah itu kugenjot pantatku dengan cepat. Linda juga bergoyang dengan cepat. Suara Linda, suaraku dan suara Santi memeriahkan pergumulan kami. Linda memeluk dan mendorongku kesamping. Aku tahu dia ingin diatas, maka kuberi kesempatan. Dengan posisi diatas Linda lebih bisa mengatur dan mencapai nikmatnya bersetubuh.

Linda menggoyangkan pinggulnya. Aku menggenggam dan meremas susu Linda. Santi memegangi pantat Linda dan meraba2 daerah pertemuan penisku dan vagina Linda. Aku terangsang hebat dan segera kukatakan pada Linda bahwa aku mau keluar. Linda mempercepat goyangannya dan akhirnya hamper bersamaan kami mencapai puncak orgasme. Maniku kusemprot kencang di dalam vagina Linda. Lalu kami lemas terlentang.

Santi menciumku, Linda juga ikut menciumku, kami tidur berpelukan bertiga dalam keadaan bugil. Aku merasa aneh dan bingung, tapi aku senang sekali. Aku memang mencintai Santi dan Linda.

“Ketika cinta harus berbagi, maka cinta itu tidak harus pacaran”, kata Santi tiba2. Aku kaget.

Santi dan Linda bergantian menjelaskan padaku, bahwa kejadian di survey darmawisata antara Santi, Linda dan aku, menyadarkan mereka bahwa ada cinta yang dalam antara Santi dan Linda. Saking cintanya sehingga mereka tak tega memperebutkan aku. Akhirnya mereka memutuskan bahwa mereka berbagi dalam mencintaiku, tetapi tak ada yang akan menjadi pacarku. Terus terang aku sama sekali tidak mengerti. Tapi mereka membiarkanku dalam kebingungan.

“Malam ini keluargaku menginap di vila kami di Bukittinggi. Aku tidak ikut karena sudah kelas 3 dan harus rajin belajar. Ayah ibuku setuju asal Santi menemaniku tidur di rumahku. Malam ini kami tidur disini. Kami minta kamu juga menginap disini”, kata Linda.

Aku setuju, tetapi aku harus pulang dulu, minta izin pada om dan tanteku di rumah.

Setelah mendapat izin om, aku segera menuju rumah Linda. Malam itu aku menginap dan tidur bertiga dengan Santi dan Linda. Dan malam itu kami bergumul lagi bertiga. Tapi kali ini urutannya terbalik. Linda duluan hingga dia orgasme, lalu Santi. Malam itu Santi dan aku mencapai puncak orgasme bersama2 dan maniku keluar didalam vagina Santi. Terlelah dan terlelap kami melewatkan malam itu dengan tidur bersama dalam keadaan bugil.

Pagi buta aku terbangun dan turun dari tempat tidur. Sambil berdiri kuperhatikan kedua tubuh bugil Santi dan Linda. Dua2nya bagus. Penisku juga mengagumi keduanya dan mulai menegang. Aku mendekati Santi dan membopong tubuhnya memindahkan ke sofabed di ruang tamu. Masih dalam keadaan tidur, kugerayangi dan kuciumi seluruh bagian tubuh Santi. Dengan mata yang masih tertidur, Santi menggelinjang. Aku segera membuka selangkangannya, lalu kumasukkan penisku ke vaginanya. Santi mendesah, matanya masih merem.

Aku menggenjot hingga aku keluar dan terkulai lemas menindihnya.

“Terimakasih Jar”, kata Santi sambil matanya merem.

Ah ternyata Santi sudah mulai bangun.

“Aku yang terimakasih”, kataku
“Aku terimakasih karena kamu mencintai Linda juga”, kata Santi menjelaskan. Aku diam sejenak
“Aku juga terimakasih karena kamu mengizinkan aku mencintai Linda juga”, kataku membalas.

Masih terlentang dengan mata terpejam, Santi memelukku erat. Lalu kami tertidur bugil di sofabed.

Aku terbangun lagi dan hari sudah mulai terang. Santi masih tidur, Linda juga. Aku ingin adil, maka kuhampiri Linda dan kucumbu seluruh tubuhnya. Linda terbangun, dan menanyakan Santi dimana. Aku menunjuk Santi yang masih tidur dan terus mencumbu Linda. Linda minta dicumbur bersama Santi. SEtelah kubilang tadi aku sudah mencumbu Santi sendiri, barulah Linda mau kucumbu sendiri.

Linda termasuk agresif, saat behubungan seks dengan Linda, kami sering bergumul bergulingan dan berganti posisi seks. Linda belum berpengalaman, tapi dia melakukannya secara alami dan naluri. Saat Linda dan aku asyik bergumul, Santi terbangun dan melihat pergulatan kami. Dia tersenyum khas, menghampiri, mencium rambut Linda dan rambutku, lalu membiarkan dan menonton Linda dan aku bergumul. Sampai akhirnya Linda dan aku orgasme. Walaupun kali ini kurasakan jumlah mani yang kusemprotkan tinggal sedikit.

Setelah usai, kami merapikan rumah, mandi dan sarapan. Lalu Linda menyuruhku pulang.
Begitulah, pada sabtu-sabtu berikutnya kami belajar bersama, dan bila tidak ada keluarga Linda, kami belajar bersama sambil bergumul bersama. Dua bulan pertama keluarga Linda selalu menginap di luar kota dan dalam dua bulan itu setiap malam minggu kami bergumul bersama. Bulan2 berikutnya mulai jarang. Hingga akhirnya kami fokus pada persiapan ujian kelulusan SMA dan tidak bergumul2an lagi. Kami lulus dengan nilai baik, dan semua melanjutkan kuliah.

Atas cinta bertiga ini, aku selalu terngiang kata-kata Santi

“Ketika cinta harus berbagi, maka cinta itu tidak harus pacaran”.



No comments:

Post a Comment

Sports

Business

Life & style

Games

Fashion

Technology